Pengangguran Jabar Masih 1,79 Juta, TPT Turun Tipis tapi Desa Justru Naik

Pencari kerja mencari informasi lowongan pekerjaan di salah satu stan perusahaan pada pameran bursa kerja
Pencari kerja mencari informasi lowongan pekerjaan di salah satu stan perusahaan pada pameran bursa kerja di Universitas Widyatama, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Jumlah pengangguran di Jawa Barat masih tergolong tinggi, meski Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menunjukkan tren penurunan.

Berdasarkan publikasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat pada Selasa (5/5), tercatat masih ada 1,79 juta orang menganggur pada periode Februari 2026. Angka tersebut menurun dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 1,81 juta orang.

Jika dilihat dari TPT, pada Februari 2026 tercatat sebesar 6,64 persen, turun tipis dari periode sebelumnya yang berada di angka 6,74 persen.

Baca Juga:Sindikat Curanmor Jonggol Terbongkar, Pelaku dan Dua Penadah Dibekuk PolisiNobar Berujung Maut, Bobotoh Muda di Tasikmalaya Tewas Diduga Dikeroyok

Secara rinci, jumlah penduduk usia kerja pada Februari 2026 mencapai 39,47 juta orang. Dari jumlah tersebut, angkatan kerja tercatat sebanyak 26,89 juta orang, sementara 12,58 juta lainnya termasuk bukan angkatan kerja.

Dari total angkatan kerja, sebanyak 25,10 juta orang telah bekerja, sedangkan 1,79 juta orang masih menganggur.

Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menyebutkan bahwa dalam setahun terakhir terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja.

“Menurut kami ada penambahan penyerapan tenaga kerja sebanyak 110,19 ribu orang dalam setahun terakhir. Kalau jumlah pengangguran turun sebanyak 20,79 ribu orang,” ujarnya.

Ia menambahkan, sektor Perdagangan Besar dan Eceran menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi 21,81 persen. Disusul sektor industri sebesar 18,32 persen dan sektor pertanian sebesar 15,57 persen.

Dari sisi status pekerjaan, mayoritas penduduk bekerja berstatus sebagai buruh, karyawan, atau pegawai dengan persentase mencapai 40,67 persen. Sementara yang berusaha sendiri tercatat sebesar 22,40 persen.

TPT Desa Naik

Dalam laporan tersebut, BPS juga mencatat adanya anomali, yakni kenaikan TPT di wilayah perdesaan.

Baca Juga:Gubernur Ahmad Luthfi dan Sungai Watch Bakal Kolaborasi Bersihkan Sampah Sungai di Jateng Jembatan Darurat Sungai Cigoha Kembali Ambruk, Warga Tanjungsari Terpaksa Putar Jauh

TPT perdesaan pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,12 persen, meningkat dibandingkan Februari 2025 yang berada di angka 4,40 persen.

Ari menjelaskan, kondisi tersebut justru menunjukkan adanya dinamika di wilayah desa.

“Sekarang orang tidak sepenuhnya mencari pekerjaan ke kota. Jadi mereka bertahan mencari pekerjaan di desa,” katanya.

Menurutnya, peningkatan angka pengangguran di perdesaan juga mencerminkan potensi, yakni semakin banyak masyarakat desa yang mulai aktif masuk ke pasar kerja.

Ia menambahkan, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja juga menunjukkan peningkatan.

“Jadi tidak hanya mereka mengurus rumah tangga atau melakukan aktivitas lainnya, tetapi mereka mulai aktif di pasar kerja dengan mencari pekerjaan atau memulai aktivitas bekerja,” tukasnya. (son)

0 Komentar