JABAR EKSPRES – Seorang anak memakan dedaunan di Bandung Barat viral di media sosial, membuka fakta pahit tentang kehidupan Muhammad Rizki (11), bocah disabilitas yang tumbuh dalam himpitan ekonomi.
Bocah yang akrab disapa Kiki itu merupakan warga Kampung Babakan Cianjur, RT 04 RW 07 Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah.
Ia diketahui sebagai penyandang disabilitas dengan gangguan mental dan tunawicara, tinggal bersama ayahnya, Asep Setiawan (49), serta neneknya.
Baca Juga:Tiga Publik Figur Ungkap Fakta “Sehat Tak Selalu Terlihat”, ZAP Hadirkan Program Diet Berbasis MedisMenteri Koperasi Resmikan SPBU Nelayan Berbasis Koperasi Di Aceh Selatan
Asep membenarkan kebiasaan anaknya yang kerap mengonsumsi dedaunan, mulai dari rumput hingga pucuk tanaman di sekitar rumah.
“Anak saya memang punya kebiasaan makan dedaunan, dari rumput sampai daun apa saja di sekitarnya. Itu karena keterbatasan yang dia miliki, ditambah kondisi ekonomi kami,” ujar Asep, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, video yang beredar tersebut direkam saat Kiki tengah bermain di sekitar lokasi pembakaran sampah tak jauh dari rumah mereka.
Menurut Asep, kebiasaan itu sudah terjadi sejak Kiki berusia sekitar empat tahun, saat mereka masih tinggal di kontrakan di wilayah Bunisari, Gadobangkong.
Saat itu, Asep yang bekerja sebagai penjual sandal keliling kerap membawa Kiki berjualan sejak pagi tanpa sempat sarapan. Dalam kondisi lapar, Kiki pernah kedapatan memakan daun talas di dalam kamar.
“Waktu saya pulang bawa nasi, saya lihat dia lagi makan daun talas. Ternyata dia ambil dari luar dan disimpan di sakunya,” katanya.
Sejak kejadian itu, kebiasaan tersebut terus berulang. Asep menduga anaknya melakukan hal itu karena tidak mampu mengungkapkan rasa lapar.
Baca Juga:Lewat Lagu “Merbabu”, Gakkumhut Kampanyekan Cinta Lingkungan dan Keselamatan PendakianPastikan Aman, 5.000 Hewan Kurban di Kabupaten Bogor Sudah Lolos Pemeriksaan Kesehatan
“Kalau dia lapar tidak bisa bilang, jadi makan apa saja yang ada. Kalau dicegah kadang marah,” ucapnya.
Hingga kini, Asep mengaku masih berupaya mengawasi dan melarang kebiasaan tersebut, meski terkendala kondisi ekonomi.
Ia juga mengaku belum pernah menerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
“Harapan saya anak saya bisa sekolah dan dapat terapi atau pengobatan, tapi belum bisa karena biaya,” katanya.
Ketua RT 04, Cecep Mulyana, mengatakan pihaknya terus mendampingi keluarga tersebut dan sedang membantu pengurusan administrasi agar dapat mengakses bantuan pemerintah.
