JABAR EKSPRES – Proporsi perempuan usia produktif di Kota Cimahi menjadi sorotan dalam momentum peringatan Hari Kartini, 21 April. Di tengah jumlah yang cukup besar, tantangan yang mengemuka bukan lagi soal kuantitas, melainkan bagaimana peran perempuan memberi dampak nyata, setidaknya dari lingkup terkecil, keluarga.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana menyebut, dari hampir 600 ribu penduduk, sekitar 35 persen merupakan perempuan usia produktif. Angka ini, menurut dia, menyimpan potensi besar sekaligus pekerjaan rumah yang tak ringan.
“Bagaimana perempuan, dengan daya, karya, dan usahanya mampu menjadi agen pemberdaya yang memberikan manfaat dan dampak nyata bagi sekitar, atau paling tidak bagi keluarganya,” kata Ngatiyana usai membuka Talkshow Interaktif Peringatan Hari Kartini 2026 Kota Cimahi di Aula A Pemkot Cimahi, Senin, (21/4/26).
Baca Juga:400 Ormas Terdata di Kabupaten Bogor, Kesbangpol Utamakan Pembinaan dan Proses Hukum Terkait Dugaan PungliPolres Tasikmalaya Ungkap Bisnis Trenggiling yang Biasa Dijual Online
Ia menilai, semangat emansipasi yang dulu diperjuangkan R.A. Kartini kini mengalami pergeseran bentuk. Tidak lagi hanya berkutat pada akses pendidikan atau ruang publik, tetapi menjalar ke berbagai sektor kehidupan, termasuk sosial, spiritual, hingga keluarga.
Dalam konteks itu, peran perempuan kerap kali tidak tampak di permukaan, namun memiliki pengaruh jangka panjang. Ngatiyana mencontohkan sosok ibu dalam keluarga yang bekerja tanpa henti sejak pagi hingga malam, mengelola rumah tangga sekaligus membentuk karakter anak.
“Inilah peran Kartini yang sesungguhnya, tidak selalu mengenai hal-hal besar, namun mulai dari hal kecil yang membawa dampak besar dalam perubahan,” ujarnya.
Ia menilai, semangat Kartini bukan sekadar simbol sejarah, melainkan representasi perlawanan terhadap budaya patriarki yang pernah mengakar kuat.
“Ini menjadi simbol perlawanan terhadap paham patriarki dengan mengedepankan peran perempuan dalam pembangunan bangsa,” kata Ngatiyana.
Ngatiyana melanjutkan, sosok Kartini terus hidup dan berkembang dalam berbagai bentuk. Perannya tidak hanya tampak dalam gerakan sosial atau pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarga.
“Setiap Kartini terus bersuara dan mendedikasikan setiap detik dalam hidupnya untuk pembangunan bangsa,” ujarnya.
Baca Juga:Nestapa Banjir Cigudeg Memaksa Pedagang Cuanki Pulang KampungBanjir Bandang Terjang Cigudeg Bogor, 10 Kontrakan Hanyut Usai Tanggul Jebol
Ia mencontohkan, dalam lingkup keluarga, peran perempuan kerap menjadi fondasi utama. Keluarga menjadi ruang awal pembentukan karakter generasi.
