JABAR EKSPRES – Di tengah pertumbuhan ekonomi yang signifikan, Pemerintah Kota Bandung justru menghadapi tantangan serius berupa ketimpangan sosial yang masih tinggi. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menilai kondisi ini menjadi persoalan mendasar yang harus segera dijembatani.
Farhan mengungkapkan, secara makro ekonomi, Kota Bandung mengalami peningkatan yang cukup tajam. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita bahkan naik sekitar 13 persen, dari sebelumnya sekitar Rp140 juta menjadi Rp150 juta pada 2025.
“Jadi artinya sudah mendekati ini PDRB Kota Bandung itu mendekati angka $9.000 US per kapita. Ini sudah masuk ke kelompok negara menengah menuju kaya kalau kita ini ekonomi sendiri,” kata dia saat ditemui di Primaya Rajawali Hospital, Rabu (15/4/26).
Baca Juga:Komisi II DPRD Kabupaten Bogor Ungkap Kebocoran PAD hingga Rp200 M, Pemkab Didesak Bentuk PansusKang Eful Dorong Ketahanan Pangan untuk Pemenuhan Gizi Keluarga
Namun di balik angka tersebut, realitas di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan yang cukup lebar. Rata-rata konsumsi masyarakat justru berada di angka Rp20 juta per tahun per kapita.
“Rp20 juta per kapita. Artinya kalau Rp20 juta per kapita per bulannya itu kurang dari Rp2 juta. Per harinya maksimum Rp60.000 kemampuan rata-rata konsumsi,” ungkap Farhan.
Ia juga mengungkapkan masih ditemukannya kasus-kasus sosial yang memprihatinkan, mulai dari ibu tunggal dengan banyak anak hingga kasus bunuh diri akibat tekanan ekonomi.
“Suaminya kabur, bukan meninggal, kabur. Kami masih menemukan kasus seorang ibu muda umur 24 tahun meninggalkan dua anak balita dan dia bunuh diri,” kata Farhan.
Selain itu, kondisi hunian padat juga masih terjadi, dengan satu rumah kecil dihuni hingga delapan orang.
Ketimpangan ini, menurut Farhan, tetap terjadi meski angka kemiskinan menurun. Bahkan, kelompok masyarakat miskin yang tersisa justru masuk kategori sangat miskin dan miskin ekstrem.
Secara statistik, hal ini tercermin dari gini rasio Kota Bandung yang berada di angka 0,42, turun dari sebelumnya 0,44, namun masih jauh dari standar nasional sebesar 0,36.
Baca Juga:Bergerak di Tengah Tantangan Global, Armada Kapal Pertamina Topang Distribusi EnergiKuliah S2 Sambil Kerja, MM UM Bandung Sasar Alumni Aktif dengan Skema Beasiswa
“Itu kalau kita lihat secara teoretis itu bisa terjadi, tapi secara praktik 0 itu terlalu utopis. 1 lebih mungkin terjadi. Kota Bandung ada di mana? 0,42. Sudah turun dari 0,44 tapi masih jauh dari standar nasional yaitu 0,36,” kata dia.
