JABAR EKSPRES – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat, menyoroti bencana yang belum lama ini melanda wilayah Kabupaten Bandung secara bersamaan, alias peristiwanya terjadi dalam waktu berdekatan.
Tim Disaster WALHI Jawa Barat, Aldi Maulana mengatakan, kejadian bencana di Kabupaten Bandung selalu berulang terjadi setiap tahunnya, sehingga dinilai jika hal tersebut jelas merugikan masyarakat.
“Kerugian yang ditimbulkan masyarakat, bukan secara nominal bahkan aktivitas sehari-hari,” katanya kepada Jabar Ekspres, Senin (13/4/2026).
Baca Juga:Banjir Dayeuhkolot Capai 1 Meter, Perahu Jadi Andalan Warga Kampung Bojongasih untuk BeraktivitasBanjir Dayeuhkolot Belum Surut, Warga Nekat Terobos Genangan Demi Beraktivitas
Aldi mencontohkan, bencana banjir dinilai sangat berdampak terhadap masyarakat, yakni memperlambat dan memblokade lalu lintas kendaraan, sehingga mengganggu warga yang ingin bekerja, atau melanjutkan aktivitas lainnya.
“Tanpa adanya pembenahan yang serius justru membuktikan respons bencana kecil tidak dipentingkan oleh pemerintah,” ujarnya.
Dipaparkan Aldi, WALHI Jawa Barat juga menilai bahwa rangkaian bencana yang melanda Kabupaten Bandung pada 7 hingga 12 April 2026 bukan sekadar peristiwa alam.
“Melainkan cerminan nyata dari akumulasi krisis ekologis yang dipicu oleh kegagalan kebijakan dan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap fungsi-fungsi ekosistem penyangga kehidupan,” paparnya.
Aldi mengungkapkan, krisis ekologis di hulu sebagai akar bencana wilayah Kecamatan Kertasari, Pacet, dan Pangalengan, merupakan kawasan yang secara geografis berada di zona hulu daerah aliran sungai (DAS) Citarum.
“Kawasan ini sejatinya berfungsi sebagai daerah Resapan air dan sabuk hijau yang menopang keseimbangan hidrologis seluruh cekungan Bandung,” ungkapnya.
Akan tetapi selama bertahun-tahun, ujar Aldi, alih fungsi lahan secara masif dari hutan dan lahan konservasi menjadi perkebunan monokultur, pertanian terasering yang tidak terkelola secara berkelanjutan.
Baca Juga:Tanggul Jebol Picu Banjir di Margahayu, Bupati Bandung Dorong Penanganan PentahelixSungai Citarum Meluap, Banjir Kembali Genangi Jalan Raya Dayeuhkolot
Bahkan, permukiman liar di lereng-lereng rawan telah meruntuhkan kemampuan alam dalam menyerap dan mendistribusikan air hujan secara aman.
Aldi menambahkan, longsor yang terjadi di tujuh titik secara bersamaan dalam satu malam adalah sinyal keras bahwa daya dukung ekologis kawasan hulu telah melampaui ambang kritisnya.
“Tanah yang kehilangan tutupan vegetasi tidak lagi mampu menahan beban air ketika curah hujan meningkat,” ujarnya.
Aldi menilai, ini bukan anomali cuaca semata ini adalah konsekuensi langsung dari degradasi lingkungan yang dibiarkan berlangsung tanpa koreksi serius.
