“Karena di setiap sekolah sampai ke perguruan tinggi hampir sudah ada tim pencegahan dan penanganan kekerasan ,” imbuhnya.
Selain itu, penguatan mental anak menjadi aspek penting agar mereka mampu menghadapi tekanan, baik dari sisi akademik maupun relasi sosial.
Yukie juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk kesehatan mental anak. Program parenting terus digencarkan agar pola pengasuhan di rumah selaras dengan pembinaan di sekolah.
Baca Juga:Wamenkop Optimis Kopdes Merah Putih Dapat Bangkitkan Ekonomi Desa, Fokus Percepatan ImplementasiSistem Coretax Picu Maraknya Joki Pajak, Purbaya Janji akan Benahi
“Jadinya kita juga memberikan parenting tentang pengasuhan, bagaimana orang tua berperan dalam pertumbuhan anak dan juga bagaimana anak bisa terlibat dalam tanggung jawabnya di rumah,” tuturnya.
Ia menambahkan, derasnya arus informasi membuat anak rentan membandingkan kondisi keluarganya dengan orang lain. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam pembentukan psikologis anak.
Selain itu, isu fatherless yang sempat ramai turut menjadi perhatian. UPTD PPA mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan sebagai bagian dari program pemberdayaan keluarga.
“Kayak kemarin sempat ramai ayah yang ambil raport, itu salah satunya untuk menunjukkan bahwa kedua orang tuanya mendukung keberhasilan anaknya dan adanya keterlibatan seorang ayah” ujarnya.
Sementara itu, dalam kasus yang sudah dilaporkan, penanganan dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan pihak sekolah. Tahapan awal dimulai dari asesmen menyeluruh terhadap anak, teman sebaya, serta pihak terkait lainnya. “Ketika ada pelaporan pengaduan, apa yang dilakukan? Yang pertama tentunya dilakukan asesmen. Asesmennya pada anaknya, terus pada temannya, dan juga pada pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan kasus, entah itu guru misalnya atau pihak lain,” kata Yukie.
Setelah itu, dilakukan sosialisasi lanjutan untuk memberikan pemahaman komprehensif terkait permasalahan yang terjadi, seperti bullying yang kerap muncul di lingkungan sekolah.
“Supaya semuanya memiliki pemahaman yang sama, dan misalnya nanti ada kasus yang serupa, mereka sudah memiliki pengetahuan itu,” terang Yukie.
Baca Juga:Di Tengah Penutupan Selat Hormuz, Mentan: Ada Negara Minta Impor Pupuk Urea IndonesiaStok Beras Indonesia Aman Capai 4,5 Juta Ton di Tengah Gejolak Timur Tengah
Edukasi ini diberikan kepada seluruh elemen sekolah, termasuk guru, tenaga kependidikan, dan siswa, agar memiliki pemahaman serta keterampilan dalam menghadapi persoalan, termasuk manajemen stres.
“Termasuk misalnya tadi manajemen stres, itu penting banget mereka punya kemampuan untuk bisa mengatasi itu sendiri, menghadapi itu sendiri, dan itu skill,” tandasnya. (Mong)
