Plastik Mahal, Pedagang Padalarang Kian Tercekik Biaya Operasional

Ilustrasi: Warga membeli kantong plastik di Pasar Kosambi. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Ilustrasi: Warga membeli kantong plastik di Pasar Kosambi. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pasca Idul Fitri, pelaku usaha kecil di Padalarang harus menanggung beban tinggi akibat melonjaknya harga kantong, gelas, dan styrofoam.

Kenaikan ini langsung berdampak pada biaya operasional pedagang makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik.

Kondisi tersebut diduga dipicu oleh dampak geopolitik perang di Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku plastik global. Selain itu, distribusi tersendat dari tingkat produsen hingga pengecer turut memperparah kenaikan harga di pasaran.

Baca Juga:Pendaftaran SNBT Masih Dibuka, POLSUB Ajak Generasi Muda Raih Masa Depan IndustriRAYA CITY ESCAPE: Pengalaman Menginap Lebih Lama di DE BRAGA BY ARTOTEL

“Harga plastik naik hampir semua jenis, mulai dari kantong, gelas, sedotan, hingga styrofoam. Biaya operasional kami ikut terdampak signifikan,” ujar Kiki (48), pedagang plastik di Padalarang, Selasa (7/4/2026).

Adapun rincian harga plastik yang mengalami kenaikan antara lain plastik kiloan (PE/PP/bening) Rp19.000-Rp22.000 per kilogram, plastik kresek/hitam Rp15.000-Rp25.000 per pack, plastik PE bening besar Rp20.000-Rp59.000 per pack, tali rafia Rp23.000-Rp25.000 per gulung, plastik PP roll Rp14.000-Rp112.000 tergantung ukuran, gelas plastik Rp23.000-Rp55.000, serta styrofoam Rp35.000-Rp55.000.

“Harga bervariasi tergantung jenis, ukuran, dan ketebalan bahan,” tambahnya.

Kiki menjelaskan, hampir seluruh komoditas makanan dan minuman menggunakan plastik sebagai kemasan. Lonjakan harga ini membuat pelaku usaha kecil kesulitan menyesuaikan biaya produksi tanpa memangkas keuntungan.

Ia menambahkan, dampak kenaikan tidak hanya dirasakan pedagang grosir, tetapi juga pedagang kecil di pasar tradisional hingga warung makan pinggir jalan.

“Setiap kali harga naik, kami harus menghitung ulang modal, stok, dan harga jual. Jika terus berlanjut, usaha kecil bisa kesulitan bertahan,” jelasnya.

Menurut Kiki, hingga saat ini belum ada langkah konkret dari pemerintah yang menyentuh langsung kondisi di lapangan. Ia berharap pemerintah tidak hanya membuat kebijakan di atas kertas, tetapi juga turun langsung memantau distribusi dan harga bahan baku.

Baca Juga:Diduga Ada Tambang Ilegal dan Penyerobotan Lahan, Warga Kuningan Mengadu ke Bale PananggeuhanHalal Bihalal IPPU Jabar 2026 di Bandung: Pererat Silaturahmi, Bangkitkan Peran Strategis Pensiunan

“Kalau ada langkah konkret dari pemerintah, kami bisa lebih tenang mengatur usaha. Saat ini yang kami rasakan adalah ketidakpastian harga dan tekanan biaya yang semakin berat,” pungkasnya.

0 Komentar