JABAR EKSPRES – Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, ekonomi Indonesia dinilai masih menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Stabilitas ini terutama ditopang oleh konsumsi domestik yang solid serta dukungan kebijakan fiskal dari pemerintah.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, melihat bahwa meskipun sejumlah lembaga internasional merevisi proyeksi pertumbuhan Indonesia, faktor utama penyebabnya berasal dari eksternal.
Lonjakan harga energi dan konflik geopolitik menjadi tekanan utama yang memengaruhi outlook tersebut.
Baca Juga:Bukti Daya Beli Kuat, Uang Beredar di Lebaran Capai Rp1.370 TriliunPrioritaskan Rakyat, Harga BBM Subsidi Dijaga Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global
“Meski begitu, risiko perlambatan tidak terlalu dalam karena konsumsi domestik dan stimulus fiskal tetap menjadi penopang utama, sehingga ekonomi cenderung melambat secara moderat, bukan mengalami penurunan tajam,” ujar Niko dikutip dari ANTARA, Senin (30/3/2026).
Di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang masih berlangsung, menurut Niko, pelaku pasar masih akan enggan untuk masuk ke dalam asset-aset beresiko, seperti saham, meskipun peluang tetap ada dan terbuka.
“Pasar obligasi, mungkin terlihat menarik, meskipun pelaku pasar dan investor juga menanti imbal hasil obligasi 10 year berada di atas 7 persen,” ujar Nico.
Analis Ekonomi Politik Pasar Saham Kusfiardi mengatakan, kondisi pasar saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen musiman domestik, melainkan oleh supply shock akibat konflik antara AS dan Iran.
“Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai balasan atas ketegangan dengan AS-Israel telah memukul Indonesia tepat di titik lemahnya, ketergantungan pada impor BBM,” ujar Kusfiardi.
Menghadapi kepastian global, ia menilai pelaku pasar masih akan menerapkan strategi ultra-defensif, dengan tindakan diantaranya, pertama, selektivitas sektor untuk tujuan menghindari sektor yang sensitive terhadap biaya energi dan suku bunga, seperti properti dan otomotif.
Kedua, fokus pada likuiditas dengan mengalihkan eksposur ke saham-saham perbankan besar (big caps) yang memiliki fundamental kuat dan sektor telekomunikasi yang lebih tahan banting terhadap gejolak komoditas.
Baca Juga:Kemnaker Perketat Pengawasan, Aduan THR Tak Lagi Berhenti di AdministrasiTransisi Kompor Listrik Dinilai Jadi Kunci Kurangi Ketergantungan Impor Energi, Benarkah?
Ketiga, instrumen lindung nilai dengan mempertimbangkan aset aman seperti emas sebagai pelindung nilai terhadap volatilitas nilai tukar.
