Bandung Terbuka untuk Pendatang, Pengamat : Perlu Ketegasan Kebijakan agar Tak Picu Masalah Baru

foto ilustrasi : Pasca lebaran, pendatang atau trend urbanisasi kerap menyerbu Kota Bandung (Jabarekspres)
foto ilustrasi : Pasca lebaran, pendatang atau trend urbanisasi kerap menyerbu Kota Bandung (Jabarekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kebijakan Kota Bandung yang tetap membuka diri bagi para pendatang pasca Idulfitri menuai sorotan dari kalangan pengamat kebijakan publik. Meski dinilai mencerminkan karakter kota yang inklusif, langkah tersebut juga dianggap perlu diimbangi dengan strategi pengelolaan yang lebih terukur.

Pengamat kebijakan publik, Billy Martasandy, menilai bahwa sikap terbuka Pemerintah Kota Bandung merupakan hal positif, namun berpotensi menimbulkan persoalan baru jika tidak disertai kebijakan turunan yang kuat.

“Bandung memang dikenal sebagai kota terbuka, tetapi keterbukaan tanpa kontrol yang jelas bisa berdampak pada meningkatnya beban kota, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun infrastruktur,” ujarnya, Rabu (25/3).

Baca Juga:Puncak Diserbu! Volume Kendaraan Naik 70%, Jalur Puncak-Cianjur Padat MerayapLebaran Jadi Momen Harapan Baru, 452 Warga Binaan Lapas Garut Dapat Remisi, 2 Langsung Bebas!

Menurut Billy, lonjakan pendatang, terutama dari kalangan usia produktif dan pelajar, akan meningkatkan persaingan kerja, tekanan terhadap fasilitas publik, hingga potensi munculnya permukiman tidak layak jika tidak diantisipasi dengan baik.

Ia menyoroti pentingnya penguatan sistem administrasi kependudukan (adminduk) yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mampu menjadi alat pemetaan kebutuhan kota.

“Pendataan bukan sekadar formalitas. Pemerintah harus bisa membaca tren, siapa yang datang, dengan tujuan apa, dan bagaimana dampaknya terhadap kota,” jelasnya.

Selain itu, Billy juga mengkritisi pendekatan yang dinilai terlalu normatif. Menurutnya, kemudahan pengurusan dokumen seperti KTP bagi pendatang memang penting, namun harus dibarengi dengan kebijakan integratif di sektor lain, seperti penyediaan lapangan kerja, pelatihan keterampilan, hingga pengendalian urbanisasi.

“Kalau hanya membuka akses tanpa menyiapkan daya tampung kota, yang terjadi adalah penumpukan masalah. Mulai dari pengangguran terselubung, kemiskinan urban, hingga konflik sosial,” tegasnya.

Ia juga mendorong Pemerintah Kota Bandung untuk memperkuat kolaborasi dengan daerah asal pendatang. Langkah ini dinilai penting untuk menekan laju urbanisasi yang tidak terkendali, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di daerah.

Lebih jauh, Billy menekankan perlunya komunikasi publik yang jujur terkait realitas hidup di kota besar. Menurutnya, banyak pendatang datang dengan ekspektasi tinggi tanpa memahami tantangan yang akan dihadapi.

Baca Juga:Pemudik Asal Bandung Meninggal Saat Singgah di Rumah Makan SumedangH+2 Lebaran, Jalur Puncak Bogor–Cianjur Terapkan One Way Akibat Lonjakan Kendaraan

“Bandung bukan hanya tentang peluang, tapi juga kompetisi yang ketat. Pemerintah perlu menyampaikan narasi yang seimbang agar masyarakat tidak datang hanya bermodalkan harapan,” katanya.

0 Komentar