Pasca Lebaran Pemkot Cimahi Liburkan Angkut Sampah Dua Hari, Ini Penyebabnya

Pasca Lebaran Pemkot Cimahi Liburkan Angkut Sampah Dua Hari, Ini Penyebabnya
Petugas mengangkut sampah yang menumpuk. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Lonjakan volume sampah selama Ramadan memaksa Pemerintah Kota Cimahi mengambil langkah darurat. Produksi sampah yang melonjak hingga lebih dari 300 ton per hari membuat kapasitas pengangkutan kewalahan, diperparah dengan pembatasan kuota pembuangan ke TPA.

Situasi tersebut mendorong Pemkot Cimahi menghentikan sementara layanan penjemputan sampah rumah tangga selama dua hari usai Idul Fitri, tepatnya pada 23–24 Maret 2026.

Kebijakan ini difokuskan untuk melakukan pembersihan di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sebelum sampah diangkut ke TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat.

Baca Juga:Jangan Salah Tempat! Ini Lokasi Salat Id 2026 Muhammadiyah di BandungĀ Hasil Sidang Isbat, Lebaran 1447 Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, mengatakan, penghentian layanan bersifat sementara guna mengejar penanganan penumpukan sampah di lapangan.

“Penjemputan sampah dari rumah ke rumah kita liburkan sampai hari Senin dan Selasa. Kami akan melakukan clean up selama dua hari,” kata Chanifah Minggu, 22/3/26).

Ia menjelaskan, layanan akan kembali berjalan normal pada Rabu (25/3/2026). Namun, sistem pengangkutan akan dilakukan secara bergantian antara sampah organik dan anorganik, sehingga warga diminta mulai melakukan pemilahan sejak dari rumah.

“Jadi jadwalnya kita seling-seling. Misalnya minggu ini organik, setelah itu baru anorganik. Jadi warga harus pilah sampah di rumahnya,” kata Chanifah.

Menurut Chanifah, lonjakan sampah terjadi hampir di seluruh TPS di Kota Cimahi. Selama Ramadan, volume sampah harian yang biasanya berkisar 250 ton meningkat signifikan hingga menembus lebih dari 300 ton per hari.

“Sangat tinggi, peningkatannya sangat tinggi. Peningkatan sampah kurang lebih di angka hampir 30-40 persen. Sekarang bisa 300 ton lebih setiap hari di bulan puasa ini,” kata Chanifah.

Ia mengungkapkan, peningkatan tidak hanya berasal dari konsumsi makanan, tetapi juga dari bertambahnya sampah kemasan makanan yang dibawa pulang oleh masyarakat.

Baca Juga:Mendag Pantau Pasar Jelang Lebaran, Harga Bahan Pokok Dinilai Masih TerkendaliMendag Kaji Ulang Aturan E-Commerce Usai Maraknya Kasus Penipuan Transaksi Online

“Kan semuanya berkemasan, nah ini juga punya efek. Kemarin kami sempat melakukan survei kecil-kecilan, ngobrol dengan salah satu RT, awalnya volumenya kurang 9 gerobak. Tetapi begitu MBG ini tidak dimakan di sekolah selama bulan Ramadhan karena dibagikan dan dibawa pulang, sampahnya naik lagi menjadi 12-13 gerobak,” kata Chanifah.

0 Komentar