Namun, perjalanan Asep tak selalu mulus. Saat mencoba menumpang truk di Nagreg, ia sempat salah arah. Truk yang ia tumpangi justru berbelok menuju Kadungora, Kabupaten Garut, bukan menuju ke arah Ciamis. Ia pun meminta turun dan kembali berjalan kaki menuju Limbangan.
“Saya kira ke arah Ciamis, ternyata ke Kadungora. Saya langsung minta turun, terus jalan lagi ke arah Limbangan,” kenangnya.
Di tengah perjalanan, Asep tak punya tempat khusus untuk beristirahat. Ia mengandalkan masjid atau emperan toko untuk sekadar merebahkan badan ketika lelah. Ia mengaku sempat merasa tidak nyaman karena ada warga yang menanyakan keberadaannya, bahkan pernah disangka hal yang negatif saat beristirahat di emperan toko.
Baca Juga:Perkuat Ketahanan Pangan Jelang Lebaran, BULOG Bandung Salurkan Bantuan Beras dan Minyak GorengDirikan Klub Satelit di Bandung, PB Jaya Raya siap Hadirkan Atlet Berpotensi untuk Bulu Tangkis
Asep yang lahir pada 1995 ini bukanlah orang asing dengan kerasnya kehidupan. Sebelum berjualan cilok, ia pernah menjadi buruh proyek bangunan dan sempat bekerja sebagai nelayan di Indramayu. Pengalaman hidup yang keras membuatnya terbiasa dengan perjalanan jauh. Ia bahkan mengaku sering berjalan kaki untuk mendaki gunung di waktu senggang. “Saya sering jalan kaki ke gunung, ke Puncak Mega Bandung,” katanya.
Di kampung halaman, keluarga telah menunggu kepulangannya setelah dua tahun merantau. Namun, perjalanan pulang ini bukan akhir dari segalanya. Setelah Lebaran usai, Asep berencana kembali merantau dan mempertimbangkan untuk bekerja sebagai nelayan lagi. (CEP)
