“Ketika Nyepi seperti apa, kita sikapi bersama, lalu kemudian juga ada pawai ogoh-ogoh,” kata Adhitia.
Menurut dia, kedekatan dua perayaan besar tersebut menjadi ciri khas tersendiri bagi Cimahi. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan wajah kota yang menjunjung tinggi toleransi.
“Ini luar biasa, di momen idulfirri berdekatan dengan hari raya nyepi. Itu merupakan daya tarik atau tredmark kota cimahi,” ujarnya.
Baca Juga:Dirikan Klub Satelit di Bandung, PB Jaya Raya siap Hadirkan Atlet Berpotensi untuk Bulu Tangkis Perkuat Silaturahmi, Ketua Relawan Bedas Galih Hendrawan Salurkan Paket Sembako di Pameungpeuk
Ia menilai, sikap saling menghormati harus terus dijaga, terutama dalam menghadapi potensi euforia masyarakat saat libur panjang. Pemerintah, kata dia, mengimbau warga untuk tetap menjaga ketertiban dan tidak berlebihan dalam merayakan.
“Itu juga merupakan bentuk bahwa di cimahi itu saling mengjargai dan menghormati. Kita harus sambut dengan suka cita ya,” imbau dia.
Lebih jauh, Adhitia menegaskan pentingnya kesadaran kolektif untuk menghormati umat Hindu yang menjalankan Nyepi, termasuk menjaga suasana tetap kondusif selama perayaan berlangsung.
Momentum ini sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang publik di Cimahi dapat menjadi titik temu berbagai identitas budaya dan agama, tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar toleransi.
Di tengah perbedaan, masyarakat justru menunjukkan kemampuan untuk hidup berdampingan secara harmonis.
“Jadi imbauannya kita saling hormati saling hargai saudara-saudara kita yang merayakan hari nyepi,” tandasnya. (Mong)
