Hari Perempuan Internasional di Bandung: Simpul Puan Soroti Upah, Kekerasan Gender, dan Program MBG

Hari Perempuan Internasional di Bandung: Simpul Puan Soroti Upah, Kekerasan Gender, dan Program MBG
Massa yang tergabung dalam aliansi Simpul Puan membawa poster saat melakukan aksi long march pada peringatan Hari Perempuan Internasional di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. Mereka menuntut, antara lain, peraturan yang melindungi jurnalis perempuan dari kekerasan berbasis gender dalam praktik kerja mereka. Mereka juga mengancam program makan bergizi gratis, yang telah menyebabkan kenaikan harga kebutuhan pokok. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Massa yang tergabung dalam Aliansi Simpul Puan melakukan long march di kawasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, beberapa waktu lalu, dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional.

Mereka berjalan sambil membawa poster, spanduk, serta pengeras suara, menyuarakan berbagai tuntutan terkait hak perempuan. Sejumlah peserta tampak mengenakan kebaya dan kain tradisional.

Di antara barisan massa, beberapa orang mengangkat poster berisi tuntutan perlindungan bagi perempuan dari kekerasan berbasis gender di tempat kerja. Ada pula poster yang mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah serta menyerukan penghentian diskriminasi terhadap perempuan.

Baca Juga:Program 3 Juta Rumah Dinilai Bisa Dongkrak Ekonomi NasionalKopi Good Day DBL Camp 2026 Digelar di Jakarta, 260 Student Athlete Berebut Tiket ke Amerika Serikat

Dalam aksi tersebut, massa juga menyinggung berbagai persoalan yang dinilai masih dihadapi perempuan, mulai dari ketimpangan upah, persoalan agraria, hingga komersialisasi sektor kesehatan dan pendidikan.

Beberapa peserta juga membawa poster yang menyinggung isu lokal, seperti penyelesaian sengketa Kebun Binatang Bandung dengan menjamin hak pekerja, fungsi pendidikan, serta keberlangsungan hidup satwa.

Dinamisator Lapangan Simpul Puan, May, mengatakan aksi ini tidak hanya menyoroti kondisi perempuan di Indonesia, tetapi juga solidaritas terhadap perempuan di wilayah konflik.

“Dari sisi perempuan, pemboman di Iran dan beberapa wilayah lain yang masih berlangsung itu termasuk tindakan femisida. Dalam perang, yang paling terdampak biasanya perempuan dan anak-anak,” kata May.

Menurut dia, aksi tersebut juga dimaksudkan untuk mengangkat berbagai dinamika politik yang mempengaruhi kehidupan perempuan. Ia mencontohkan ketimpangan upah yang masih terjadi di sejumlah sektor kerja.

“Tidak jauh-jauh, misalnya di Pangalengan. Perempuan di sana upahnya lebih rendah, padahal jam kerja sama,” ujarnya.

Simpul Puan juga menyoroti program makan bergizi gratis yang dinilai berdampak pada kenaikan harga bahan pokok. Kondisi tersebut, kata May, dirasakan langsung oleh ibu rumah tangga yang harus memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Baca Juga:Berkah! UMKM Binaan Pertamina Raup Omzet hingga Dua Kali Lipat di SMEXPO Ramadan 2026Kepala BKPSDM Bantah Tuduhan 'Permainan' dalam Rotasi Mutasi Pejabat Pemkab Bandung

“Banyak ibu-ibu yang kesulitan karena harga bahan pokok mahal,” katanya.

Selain membawa tuntutan kebijakan, penyelenggara aksi juga berupaya menciptakan ruang aman bagi para peserta. Panitia menyosialisasikan hak peserta untuk menolak dipotret selama kegiatan berlangsung.

“Kami belajar dari tahun sebelumnya, ada kawan-kawan yang tidak bersedia dipotret. Jadi kami sosialisasikan bahwa setiap orang berhak menentukan apakah ia ingin difoto atau tidak,” ujar May.

0 Komentar