JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung meningkatkan pengawasan di kawasan Jalan Layang Prof. Mochtar Kusumaatmadja atau Flyover Pasupati menyusul meningkatnya kasus percobaan bunuh diri yang terjadi di lokasi tersebut.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan langkah tersebut dilakukan dengan mengintensifkan patroli oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di sekitar flyover sejak sepekan terakhir. Upaya ini merupakan bagian dari langkah preventif pemerintah untuk menekan potensi tindakan nekat yang kerap terjadi di titik tersebut.
“Sejak minggu lalu kami sudah meningkatkan patroli di kawasan itu. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa tingkat kasus bunuh diri di Kota Bandung sudah berada pada kondisi yang cukup mengkhawatirkan,” ujar Farhan di Bandung, Kamis (5/3).
Baca Juga:Lewat Eksepsi, Kuasa Hukum Resbob Nilai Dakwaan JPU Cacat FormilBULOG Bandung Percepat Serapan Gabah Petani di Sumedang
Menurutnya, pengawasan tidak hanya difokuskan di kawasan flyover, tetapi juga diperluas ke lingkungan pendidikan yang memiliki bangunan bertingkat. Pemerintah meminta pihak sekolah dan perguruan tinggi meningkatkan kewaspadaan guna mencegah kejadian serupa.
“Pengawasannya kami perketat. Beberapa sekolah dan kampus juga kami minta ikut menjaga keamanan gedung-gedung tinggi. Pernah ada kasus seorang mahasiswi yang menjatuhkan diri dari gedung bertingkat,” katanya.
Farhan menegaskan bahwa pemerintah kota tidak bisa bekerja sendiri dalam menangani persoalan ini. Ia mendorong adanya keterlibatan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, keluarga, hingga komunitas masyarakat untuk meningkatkan perhatian terhadap kesehatan mental.
Sementara itu, akademisi psikologi menilai meningkatnya kasus bunuh diri di perkotaan tidak dapat dilepaskan dari tekanan psikologis yang semakin kompleks, terutama di kalangan remaja dan usia produktif.
Pengamat psikologi, Billy Martasandy, menjelaskan bahwa fenomena tersebut kerap dipicu oleh kombinasi faktor sosial, ekonomi, hingga tekanan akademik yang tidak tertangani dengan baik.
Menurut Billy, banyak individu yang mengalami tekanan mental tetapi tidak memiliki ruang aman untuk bercerita atau mendapatkan bantuan profesional.
“Kasus bunuh diri biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada proses panjang berupa akumulasi stres, rasa putus asa, hingga perasaan tidak dihargai atau tidak memiliki harapan,” ujarnya.
Baca Juga:Kehangatan Bernuansa Heritage dalam Momen Berbuka Puasa “A Wishful Ramadan” ala de Braga by ARTOTELAda 250 Kursi Mudik Gratis Pemkot Bandung, Siap Antar Warga Pulang ke Kota-kota Ini!
Ia menilai penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem dukungan kesehatan mental, mulai dari layanan konseling di sekolah dan kampus hingga penyediaan hotline bantuan psikologis bagi masyarakat.
