Mojtaba Khamenei Muncul sebagai Kandidat Kuat Pemimpin Tertinggi Iran Pasca-Serangan AS-Israel

Mojtaba Khamenei Muncul sebagai Kandidat Kuat Pemimpin Tertinggi Iran Pasca-Serangan AS-Israel
Mojtaba Khamenei (SUMBER FOTO: X)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ali Khamenei yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel akhir pekan lalu, dilaporkan menjadi salah satu kandidat terdepan untuk menduduki posisi Pemimpin Tertinggi Iran.

Menurut laporan The New York Times pada Selasa, para tokoh agama dan ulama yang memiliki kewenangan memilih Pemimpin Tertinggi baru telah menggelar musyawarah. Dalam pertemuan tersebut, nama Mojtaba Khamenei disebut-sebut menguat sebagai figur yang berpeluang menggantikan ayahnya. Informasi itu dikutip dari sejumlah pejabat Iran yang mengetahui proses internal tersebut.

Hingga Rabu pagi, wacana penunjukan Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi masih berada dalam tahap pembahasan dan belum diputuskan secara final. Proses pertimbangan berlangsung di tengah situasi keamanan yang masih sangat tegang.

Baca Juga:Indonesia Tawarkan Mediasi Konflik Iran-AS-Israel, Sugiono Tekankan Jalur DiplomasiWilayah Udara UEA Ditutup, Daniil Medvedev Terancam Absen di Indian Wells

Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa apabila Mojtaba resmi ditetapkan sebagai pemimpin baru Iran, ia berpotensi menjadi target serangan berikutnya dari Amerika Serikat maupun Israel. Kekhawatiran ini mencerminkan tingginya risiko politik dan keamanan yang menyelimuti proses suksesi kepemimpinan di Teheran.

Sebelumnya, pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terkoordinasi ke sejumlah wilayah di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur signifikan serta korban jiwa, termasuk tewasnya Ali Khamenei yang saat itu menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan dengan mengerahkan drone dan rudal ke wilayah Israel serta sejumlah aset milik Amerika Serikat di kawasan Teluk. Eskalasi ini memperluas ketegangan di Timur Tengah dan menambah ketidakpastian atas arah politik dan keamanan Iran ke depan.*

0 Komentar