JABAR EKSPRES – Langit Indonesia akan dihiasi fenomena Gerhana Bulan Total atau Blood Moon pada 3 Maret 2026, bertepatan dengan waktu berbuka puasa Ramadan 1447 Hijriah.
Fenomena astronomi ini diperkirakan mencapai puncaknya pada pukul 18.33 WIB, ketika Bulan terbit di ufuk timur bersamaan dengan Matahari yang mulai terbenam.
Momen tersebut memberi peluang bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia untuk menyaksikan Bulan berwarna kemerahan sesaat setelah azan magrib berkumandang.
Baca Juga:Ekonomi Desa Siap Naik Kelas, Koperasi Subang Ekspor 3 Ton Manggis ke Pasar China Jadi Penopang Ekonomi Pesisir, KKP Pastikan Kemudahan Pupuk Subsidi Bagi Pembudidaya Ikan
Diketahui, gerhana bulan total terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus sehingga Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.
Dalam kondisi ini, cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi akan dibiaskan dan menghasilkan rona merah tembaga di permukaan Bulan, yang populer disebut sebagai Blood Moon.
Peneliti di Observatorium Bosscha, Yatny Yulianty, mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak dapat menyaksikan seluruh rangkaian proses gerhana karena saat Bulan terbit, fasenya sudah mendekati puncak totalitas.
“Ketika Bulan terbit di Indonesia, posisinya sudah dalam kondisi gerhana dan hampir mencapai fase total. Jadi kita tidak melihat proses awalnya, tetapi bisa langsung menyaksikan fase yang mendekati puncak,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Menurut Yatny, wilayah Indonesia pada saat itu berada dalam cakupan bayangan Bumi, namun waktu pengamatan terbatas karena gerhana sudah berlangsung lebih dulu sebelum Bulan muncul di horizon.
Meski demikian, peluang melihat warna kemerahan tetap terbuka lebar apabila kondisi cuaca cerah.
Ia menegaskan, faktor cuaca menjadi penentu utama keberhasilan observasi. Tim pengamat telah menyiapkan berbagai skenario teknis, termasuk antisipasi gangguan listrik saat kegiatan pemantauan berlangsung. Namun, langit mendung tetap menjadi tantangan terbesar.
Baca Juga:Kredit UMKM Bisa Tumbuh Pesat dengan Perbaikan Tiga Sektor Utama Menaker Pastikan Bonus Hari Raya Ojol Diumumkan Bersamaan dengan THR
“Pengamatan gerhana bulan sangat bergantung pada kondisi langit. Kita bisa menyiapkan peralatan dan teknis sebaik mungkin, tetapi kalau tertutup awan, maka fase puncaknya tidak akan terlihat,” jelasnya.
Berbeda dengan gerhana matahari, Gerhana Bulan Total aman diamati secara langsung tanpa alat bantu khusus.
Perubahan warna Bulan saat memasuki umbra dapat terlihat jelas oleh mata telanjang, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir saat menyaksikannya.
