“Sekarang saya jual Rp105 ribu per kilo untuk cabai rawit merah. Dari sananya sudah mahal, jadi kami tidak bisa tahan harga. Kalau dipaksakan murah, kami tidak dapat untung,” ujarnya.
Menurutnya, pembeli sempat mengeluhkan lonjakan harga tersebut. Namun sebagian besar tetap membeli meski dalam jumlah lebih sedikit.
“Biasanya beli setengah kilo atau sekilo, sekarang banyak yang beli seperempat saja. Tapi karena ini kebutuhan dapur, tetap dicari,” katanya.
Baca Juga:Satgas Saber Pangan Cimahi Siap Jaga Harga Jelang Ramadan, Cabai dan Daging Mulai NaikHarga Cabai Melambung Tinggi, Ibu Rumah Tangga di Bandung Timur Dipaksa Berhemat
Pedagang lainnya menyebutkan pasokan cabai yang datang ke pasar juga tidak sebanyak biasanya. Hal ini membuat persaingan mendapatkan barang di tingkat pedagang semakin ketat dan berdampak pada harga jual ke konsumen.
Disdagin Kota Bandung menyatakan terus melakukan pemantauan harga dan berkoordinasi dengan distributor serta pengelola pasar induk guna memastikan distribusi kembali normal dalam waktu dekat. Pemerintah berharap setelah aktivitas perdagangan berjalan penuh pasca-munggahan, pasokan cabai kembali stabil sehingga harga berangsur turun.
Meski demikian, masyarakat diimbau untuk berbelanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan guna menghindari gejolak harga yang lebih tinggi di pasaran. (Dam)
