“Kita menghimbau pada saat cuaca ini tidak dalam posisi yang ramah, untuk tidak memaksakan. Otomatis usaha wisata seperti arung jeram tidak banyak diakses, kemudian kegiatan usaha di ruang terbuka juga akan berhati-hati,” katanya.
Ia mencontohkan risiko seperti pohon tumbang, angin kencang, hingga hujan deras yang kerap menjadi pertimbangan wisatawan untuk menunda kunjungan.
Di sisi lain, keterbatasan akomodasi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi lama tinggal wisatawan. Wawan menyebut, ketersediaan hotel di Kabupaten Bandung masih terbatas dan daerah ini lebih berfokus pada wisata alam ketimbang wisata perkotaan.
Baca Juga:BULOG Kancab Bandung Gelar Gerakan Pangan Murah Jelang Ramadhan, Stok Dipastikan AmanPA Kota Cimahi Bahas Kesejahteraan Yudisial dalam Diskusi Internasional BPHPI–FCFCOA
“Kalau daerah kota besar biasanya wisata belanja, kuliner, hiburan, dengan akomodasi yang lengkap. Kalau kita lebih fokus ke wisata alam,” ungkapnya.
Memasuki awal tahun 2026, Disparbud juga mencatat adanya penurunan kunjungan wisatawan. Kondisi ini dipengaruhi musim hujan yang masih tinggi serta momentum menjelang Ramadan.
“Sekarang lagi low season, menjelang puasa juga. Hujan masih tinggi curahnya. Apalagi kemarin Imlek, sebentar lagi puasa. Pasti ada kondisi di mana kunjungan wisatawan dan pendapatan pelaku usaha wisata sedang menurun,” tandasnya.
