Dari Mustahik ke Muzaki: 25 Tahun Transformasi Zakat Menguatkan Indonesia dari Bandung

BAZNAS Kota Bandung
KUATKAN ZAKAT: Dua petugas BAZNAS Kota Bandung telaten memeriksa berkas pengajuan zakat seorang warga. Di kantor sederhana Jalan Martanegara No. 6, Turangga, proses berlangsung tenang dan penuh perhatian, Kamis, 12 Februari 2026.
0 Komentar

Roziqin menegaskan komitmen membangun kota. Kebanggaan terbesarnya bukan pada angka penghimpunan atau lonjakan dana, melainkan kekompakan tim yang terkoordinasi rapi, terlembaga baik, dan terkonsolidasi kuat. Dalam lima tahun kepemimpinannya, hal itu menjadi kunci utama. Target penghimpunan terlampaui, penyaluran semakin optimal, meski masih ada ruang perbaikan. Tim bekerja tanpa lelah, sesuai mandat BAZNAS: menjangkau delapan asnaf mustahik melalui lima pilar utama-kesehatan, keagamaan, sosial, kemanusiaan, serta ekonomi dan pendidikan.

Yang paling menyentuh hati Roziqin adalah kisah transformasi nyata. Mustahik produktif dibina telaten dengan dana zakat, hingga naik kelas menjadi muzaki. Perubahan itu terasa dalam kehidupan sehari-hari. Mustahik terbagi dua: konsumtif (untuk lansia dan keluarga dengan akses kerja terbatas) mendapat bantuan bertahan hidup, sementara prioritas utama adalah pendekatan produktif. “Kami dampingi mereka dengan penuh perhatian,” jelas Roziqin.

Proses dari tangan penerima menjadi pemberi memakan waktu, tapi hasilnya menginspirasi. Ribuan warga merasakan sentuhan itu: pedagang kaki lima kini punya kios tetap dengan omzet stabil dan tumbuh; ibu rumah tangga mengembangkan usaha rumahan hingga mandiri; mahasiswa dari keluarga tak mampu mendapat beasiswa semester akhir (semester 5-8), lulus tepat waktu tanpa beban biaya, bekerja baik, mengangkat taraf hidup keluarga, bahkan mulai menunaikan zakat sendiri. Kisah mereka menjadi bukti hidup zakat sebagai kekuatan perubahan.

Baca Juga:INABA-BILIC MoU: Wujudkan Kemandirian Penyandang DisabilitasGeger! Ratusan Kader PSI Bandung Tinggalkan Partai, Gabung PDI Perjuangan

Program lain terus berjalan: renovasi rumah tak layak huni (rutilahu) tetap menjadi andalan, dukungan kesehatan masyarakat, edukasi penanggulangan HIV/AIDS, serta pemberdayaan ekonomi produktif. Semua dirancang untuk dampak jangka panjang. Pelatihan wirausaha digelar rutin, pendampingan usaha berkelanjutan, dan dukungan Pemerintah Kota Bandung sangat kuat dari regulasi hingga fasilitasi langsung. “Dukungan itu luar biasa,” ucap Roziqin.

Sinergi ini membuat program efektif dan manfaatnya luas. Tantangan di metropolitan Bandung memang besar: kesadaran zakat rendah, literasi perlu ditingkatkan. “Banyak warga tahu zakat wajib, tapi kesadaran menunaikannya belum seimbang,” ungkap Roziqin. Ada yang sadar tapi bingung menghitung, ragu saluran aman. BAZNAS tak berhenti mengedukasi melalui Dinas Kota, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di kecamatan hingga kelurahan, masjid sebagai pusat dakwah, pelatihan dai zakat, edukasi sekolah, dan keterlibatan pemuda.

0 Komentar