Ismail menegaskan, keberhasilan program ini tidak mungkin dicapai tanpa dukungan penuh dari orang tua. “Betul, karena tanpa adanya dukungan orang tua, saya rasa industri dan juga pihak sekolah tidak akan bisa memaksimalkan potensi anak-anak yang nantinya akan berada di industri,” tegasnya.
Menurutnya, tujuan besar dari program ini tetap berpijak pada cita-cita pendidikan nasional. “Karena tujuannya ya balik lagi ya, mencerdaskan kehidupan bangsa dan yang sudah pasti juga adalah memberikan mereka kompetensi sesuai dengan minat si anak-anaknya sendiri,” sambung Ismail.
Tantangan terbesar, lanjut Ismail, justru datang dari karakter individu siswa, terutama di tengah arus besar pengaruh media sosial dan teknologi pada Generasi Z dan Generasi Alfa.
Baca Juga:Strategi Gubernur Ahmad Luthfi Turut Sukseskan Program Prioritas Presiden Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi Wamenkeu
“Dikarenakan banyak pengaruh-pengaruh di luaran sana, terutama dari sisi sosial media atau teknologi yang bisa membawa mereka ke hal-hal yang sebenarnya tidak bisa memunculkan potensi mereka sendiri,” ungkapnya.
Karena itu, pertemuan antara orang tua, sekolah, dan industri dinilai penting untuk menjawab tantangan masa depan siswa. “Saya rasa bisa untuk menjawab tantangan yang nanti anak-anak ini akan hadapi di masa depan,” kata Ismail.
Sementara itu, Wakil Kepala Hubungan Industri dan Masyarakat SMKN 3 Cimahi, Latifah Pujiastuti, menjelaskan bahwa sosialisasi ini merupakan langkah awal dari implementasi Kelas Industri yang perdana digelar tahun ini untuk jurusan kuliner.
“Kebetulan jurusan kuliner itu kita sudah MOU tapi nanti akan MOU lagi 11 Februari,” ujarnya.
Menurut Latifah, sosialisasi menjadi penting agar orang tua memahami kesiapan fisik dan mental yang harus dimiliki siswa. “Pertama, orang tua itu harus mengetahui apa-apa yang harus disiapkan oleh anak dan orang tua,” katanya.
Ia mencontohkan hal-hal mendasar seperti menjaga kesehatan, sarapan, tidak begadang, hingga kebiasaan berolahraga. Pasalnya, aktivitas di dapur hotel menuntut stamina dan ketahanan fisik.
“Meskipun seminggu sekali, anak itu ketika misalnya dia di breakfast atau apapun harus berdiri 2–3 jam. Ya kan kalau kitchen itu harus berdiri,” beber Latifah.
