Latifah menegaskan, Kelas Industri dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kurikulum sekolah dan kebutuhan industri.
“Artinya ilmu-ilmu dan pengetahuan yang dapat di sekolah diaplikasikan dan diimplementasikan di industri. Jadi betul-betul klop,” jelasnya.
Bahkan, menurut Latifah, dalam kondisi tertentu kurikulum sekolah bisa menyesuaikan kebutuhan industri. “Sekarang lagi musim, bukan lagi musim dan emang seharusnya seperti itu,” imbuhnya.
Baca Juga:Strategi Gubernur Ahmad Luthfi Turut Sukseskan Program Prioritas Presiden Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi Wamenkeu
Selain keterampilan teknis, siswa juga dibekali pengalaman budaya kerja industri, mulai dari penggunaan peralatan profesional, interaksi dengan mentor dan staf, hingga menghadapi pelanggan.
“Kalau di sekolah mah udah temen sendiri kemudian guru, tapi kalau di sana ada mentornya, ada stafnya, ada customer atau tamu,” ujarnya.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah pembentukan kecerdasan emosional dan manajemen waktu. “Anak-anak itu kelas industri kan harus dari pagi Pak, jam 5 sampai jam sekian. Jadi ada dua shift, shift pagi, shift siang,” jelas Latifah.
Ia juga menegaskan adanya jaminan perlindungan bagi siswa selama mengikuti Kelas Industri, termasuk dari praktik perundungan dan pelecehan, serta komitmen industri untuk tidak mempekerjakan anak di bawah umur.
Implementasi Kelas Industri akan dimulai pada 3 Maret hingga Desember 2026. Siswa kelas XI kuliner akan datang ke hotel seminggu sekali untuk praktik langsung tanpa teori.
“Datang langsung hands-on. Di kitchen langsung oleh chef-nya dikasih contoh,” kata Latifah.
Setelah itu, pada Januari hingga April 2027, siswa akan melanjutkan ke tahap Praktik Kerja Lapangan (PKL).
Baca Juga:Layvin Kurzawa, Jawaban Persib di Fase Paling MenentukanDion Markx Jadi Simbol Regenerasi Persib Bandung
Antusiasme terhadap program ini juga datang dari orang tua siswa. Salah satunya Nila (50), orang tua dari Nadila Kasjuf Rani (17), siswi kelas XI kuliner.
“Anggapan saya selaku orang tua sangat positif sekali. Saya sangat kagum dan salut ya untuk SMK 3 ini,” ujar Nila.
Menurutnya, program ini memberi keunggulan nyata bagi anak-anak setelah lulus sekolah.
“Mereka sudah siap untuk di lapangan kerja selanjutnya,” katanya dengan bangga.
Ia mengakui, pembentukan disiplin melalui industri sulit dilakukan sepenuhnya di rumah.
