Kisah Perjuangan Hana: Balita Penyakit Langka Butuh Bantuan Pemerintah

Kisah Perjuangan Hana: Balita Penyakit Hati Langka Butuh Bantuan Pemerintah
Kisah Perjuangan Hana: Balita Penyakit Hati Langka Butuh Bantuan Pemerintah. Foto pixabay,
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kasih sayang orang tua diuji. Di Desa Ciadeg, Cigombong, Bogor, Siti Hanifah (25) dan Hermawan (35) berjuang tanpa henti demi putri semata wayangnya, Hana Hanifah (8), yang menderita penyakit hati langka, Atresia Bilier.

Sejak bayi, Hana harus menghadapi pengobatan intensif yang menuntut biaya besar, tenaga, dan waktu, sementara orang tuanya rela melakukan apa saja untuk memberi kesempatan hidup lebih baik bagi sang buah hati.

Penyakit ini membuat saluran empedu Hana tidak berkembang normal sehingga empedu menumpuk dan merusak fungsi hati. Terdiagnosa saat baru berusia 19 hari, Hana harus menjalani pengobatan intensif yang menyita waktu, tenaga, dan biaya keluarga.

Baca Juga:Makin 'Pedas'!  Harga Cabai di Pasar Ujung Berung Bandung Jadi Rp90 Ribu per KilogramMasjid Raya Al Jabbar, Ikon Megah Perpaduan Ibadah, Edukasi, dan Wisata Religi di Bandung

Setiap perjalanan ke rumah sakit menjadi tantangan tersendiri. Tabungan habis, motor dijual, bahkan Hermawan terpaksa menjual permen untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Siti dan Hermawan sempat mengontrak rumah dekat RSCM demi memudahkan pengobatan rutin Hana, yang bisa mencapai tiga hingga empat kali per minggu.

Namun, biaya pengobatan Hana jauh melampaui kemampuan keluarga. BPJS hanya menanggung sebagian obat dan pemasangan alat medis, sedangkan obat vitamin dan persiapan transplantasi hati senilai minimal Rp 250 juta tidak tercakup. Transplantasi hati menjadi harapan satu-satunya bagi kesembuhan Hana.

Siti berharap pemerintah dapat memberikan bantuan, khususnya untuk menanggung biaya calon pendonor hati, agar anak-anak dengan penyakit langka seperti Hana memiliki kesempatan hidup lebih baik.

“BPJS menanggung anaknya, tapi untuk calon pendonor nggak bisa. Kami mohon bantuan pemerintah agar anak-anak seperti Hana bisa mendapat kesempatan hidup lebih baik,” ujar Siti Hanifah.

0 Komentar