JABAR EKSPRES – Pengamen hingga anak jalanan jadi salah satu problem kota. Namun bukan berarti tidak ada yang peduli. Masih banyak relawan hingga perorangan yang mau bergerak untuk membina para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) itu.
Salah satunya adalah Priston Sagala. Ia bersama sang istri sudah lama berkecimpung membina anak-anak jalanan, ibu-ibu, lansia hingga para pengamen itu.
Bernaung di bawah Yayasan Kelompok Perempuan Mandiri (KPM) Dewi Sartika yang ia dirikan seja 2007. Ia banyak membina anak-anak, kaum perempuan hingga para musisi jalanan atau pengamen di Kota Bandung.
Baca Juga:Jumlah Bodypack Melebihi Daftar Pencarian, SAR Temukan Tujuh Korban di Hari ke-10Masuki 2026, De Braga by ARTOTEL Perkuat Konsep Hospitality Berkelanjutan dan Ramah Keluarga
Jabar Ekspres berkesempatan berdialog dengan pria 57 tahun itu, Jumat (30/1). Priston menceritakan, para PMKS yang ia bina memang banyak mengais rupiah dijalanan.
Misalnya anak-anak yang biasa berjualan di lampu merah, para orang tua yang berjualan tisu atau mengemis. Termasuk para Kelompok Penyanyi Jalanan. “Kalau dihitung, anak-anak dan ibu – ibu binaan itu ada lebih dari 1000. Lalu kalau pengamen itu bisa hampir 800 orang,” jelasnya.
Priston menceritakan, pengamen atau musisi jalanan di Kota Bandung bisa dikategorikan dalam beberapa jenis. Pertama adalah pengamen lalayaran. Yaitu pengamen yang tidak mangkal di satu titik, tapi mereka ngamen dengan keliling. Bisa di angkot, atau dari warung dan café.
Berikutnya adalah Komunitas Pengamen Pasar (Kompas). Yakni pengamen yang mengais rupiah di pasar. Termasuk para tunanetra atau disabilitas. Kemudian para Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ). “Mereka (KPJ.red) ini yang biasa mangkal di lampu-lampu merah,” terangnya.
Priston melanjutkan, para pengamen itu tumbuh di Kota Bandung dari berbagai sebab. Ada yang mulanya mereka adalah para perantau yang ingin kerja di Kota Bandung. Namun kemampuan terbatas sehingga tidak dapat pekerjaan.
Sehingga ngamen adalah pilihan terakhir. Lambat laun mereka tumbuh menjadi keluarga bersama para pengamen. Termasuk melahirkan anak atau generasi baru yang juga tidak sedikit harus mengikuti jejak orang tuanya.“Ada juga mereka yang memang anak-anak dibuang di jalan,” imbuhnya.
Priston menceritakan, berbagai peristiwa telah ia lalui selama menemani para PMKS itu tumbuh dan bertahan di Kota Bandung. Mulai dari razia yang tak terhitung, hingga urusan dengan aparat akibat berbagai perkelahian dan kasus anak-anak binaannya. Termasuk aksi demo ke pemerinta daerah.
