160 Penyintas Ikuti Seminar Hari Kanker BCS Bersama Dokter Ahli

Hari Kanker
Seminar edukasi kesehatan dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day), yang degalar Bandung Cancer Society (BCS) di Ballroom El Hotel Bandung pada Minggu (1/2/2026).
0 Komentar

BANDUNG – Dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day), Bandung Cancer Society (BCS) menggelar seminar edukasi kesehatan di Ballroom El Hotel Bandung pada Minggu, 1 Februari 2026. Acara ini menghadirkan dokter-dokter ahli dari berbagai bidang onkologi untuk memberikan penjelasan mendalam kepada penyintas kanker serta pendamping mereka.

Tujuan utama seminar adalah meningkatkan pemahaman komprehensif tentang kanker, mulai dari deteksi dini gejala awal, proses diagnosis, berbagai modalitas pengobatan, hingga tahap pemulihan dan reintegrasi ke kehidupan sehari-hari.

Ketua sekaligus Pendiri BCS, Dra. Yanti Setiawadi, menekankan pentingnya kehadiran tenaga medis profesional. “Pertanyaan teknis sering muncul di kalangan anggota, dan jawaban dari sesama penyintas kadang belum lengkap atau akurat. Oleh karena itu, kami menghadirkan dokter spesialis agar mereka bisa menjelaskan secara langsung dan ilmiah: mulai dari tanda-tanda awal, prosedur biopsi, hingga cara pasien kembali produktif pasca-pengobatan,” ujar Yanti.

Baca Juga:115 Mahasiswa Jawa Barat Menjalani Pendidikan Dasar Bela Negara Menwa MahawarmanPemuda Energi Tuntut Audit Proyek Bermasalah di Rakernas METI

Sesi diskusi interaktif menjadi sorotan utama. Banyak peserta bertanya tentang mitos umum, seperti apakah biopsi dapat memicu penyebaran kanker atau membuatnya lebih agresif, pertanyaan yang dijawab secara faktual oleh dokter.

Selain itu, peserta aktif membahas perbedaan antara PET scan dan CT scan, fungsi masing-masing dalam staging kanker, serta indikasi penggunaannya sesuai jenis kanker yang dialami.Untuk menjawab beragam kebutuhan, panitia mengundang dokter dari spesialisasi terkait, sehingga peserta bisa berkonsultasi langsung sesuai jenis kanker payudara, serviks, paru, atau lainnya.

Acara ini diikuti sekitar 160 peserta, terdiri dari anggota BCS, penyintas, pendamping, serta perwakilan dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) dan dokter narasumber.

Yanti menjelaskan bahwa kegiatan BCS bersifat rutin dan fleksibel. Setiap bulan ada agenda, tidak selalu seminar formal. Saat cuaca mendukung, mereka sering menggelar olahraga bersama di Dago Car Free Day atau lokasi terbuka lainnya. Namun, mengingat cuaca tak menentu dan risiko hujan, seminar kali ini dipindah ke ruangan indoor di El Hotel.

BCS didirikan pada Januari 2007, berawal dari pengalaman pribadi Yanti saat menjalani kemoterapi kanker payudara. Pada sesi kemoterapi ketiga, kondisi fisiknya menurun drastis, mual hebat dan nyeri luar biasa.

0 Komentar