JABAR EKSPRES – Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bandung sepanjang 2025 tercatat menurun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Yuli Irnawati Mosjasari menyebutkan, selama 2025 tercatat 1.854 kasus DBD. Angka tersebut turun cukup tajam dibandingkan 3.589 kasus pada 2024.
Meski demikian, Dinkes Kabupaten Bandung menegaskan upaya pencegahan tetap diperkuat, terutama menghadapi kondisi musim hujan.
Baca Juga:Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi WamenkeuLayvin Kurzawa, Jawaban Persib di Fase Paling Menentukan
“Terjadi penurunan kasus DBD, namun kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan pengendalian,” kata Yuli saat dihubungi, Jumat (30/1/2026).
Ia menegaskan, penurunan angka kasus tidak membuat jajaran Dinkes mengendurkan upaya pencegahan. Berbagai langkah terus dijalankan, mulai dari pemberantasan sarang nyamuk (PSN), penerapan gerakan satu rumah satu jumantik, hingga penguatan edukasi kepada masyarakat.
Yuli menjelaskan, curah hujan yang tinggi berpotensi meningkatkan risiko penularan DBD. Genangan air yang muncul di lingkungan permukiman dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti jika tidak dikelola dengan baik.
“Musim hujan dengan intensitas tinggi sangat rawan menimbulkan genangan air, dan ini harus diantisipasi bersama,” ujarnya.
Sebagai upaya pencegahan, Dinkes terus mendorong masyarakat menerapkan 3M Plus di tingkat rumah tangga. Selain menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali barang bekas, masyarakat juga diajak melakukan langkah tambahan untuk memutus siklus nyamuk.
“Misalnya dengan memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat kasa di ventilasi rumah, serta tidak menggantung pakaian sembarangan,” jelas Yuli.
Di sisi pengawasan, Dinkes Kabupaten Bandung menerapkan sistem pelaporan kasus terintegrasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk klinik dan layanan swasta.
Baca Juga:Dion Markx Jadi Simbol Regenerasi Persib BandungDPRD KBB Fraksi PDI Perjuangan Kawal MBG Agar Berkualitas dan Tepat Sasaran
Data tersebut dimanfaatkan puskesmas untuk melakukan pemantauan wilayah setempat (PWS) secara rutin.
Pemantauan dilakukan setiap pekan guna mendeteksi dini potensi peningkatan kasus. Selain itu, pengendalian vektor dilakukan melalui penggunaan larvasida, insektisida, serta fogging fokus di wilayah yang ditemukan kasus.
Upaya pengendalian DBD tersebut juga merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Bupati Bandung Nomor 400.9.10./008/3524/BPBD tentang Mitigasi Bencana Dampak Hidrometeorologi.
Dalam edaran itu, jajaran Dinas Kesehatan diarahkan untuk menyiapkan tim medis tanggap darurat, logistik kesehatan, serta mengantisipasi penyakit pascabanjir, seperti diare dan DBD.
