Nenek Salamah tak banyak bicara. Ia lebih sering diam, menggenggam ujung bajunya, menahan gemetar yang entah berasal dari dingin atau dari perasaan kehilangan yang tak tertampung.
Sesekali ia mengusap matanya, bukan untuk menghapus air mata karena air mata seakan sudah habis. Melainkan sekadar memastikan ia masih terjaga.
Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berdoa. Doa yang sama, diulang setiap hari. Doa agar hujan berhenti, agar tanah tidak kembali bergerak, agar tim pencari diberi keselamatan. Dan doa paling berat agar anak dan cucunya bisa ditemukan, apa pun keadaannya.
Baca Juga:Rutin Konsumsi Alpukat? Khasiatnya Gak Main-main!Sehat dan Berat Badan Stabil, Ini 5 Kebiasaan yang Bantu Metabolisme Bekerja Optimal
“Saya hanya minta doa,” katanya pelan, suaranya bergetar. “Semoga semuanya bisa segera ditemukan.”
Proses pencarian korban longsor Pasirlangu masih terus berlangsung. Namun alam seakan belum sepenuhnya memberi ruang. Hujan yang kembali turun sejak sehari terakhir membuat medan pencarian semakin berbahaya. Tanah menjadi licin, labil, dan rawan longsor susulan. Setiap langkah petugas harus diperhitungkan, setiap penggalian dilakukan dengan kehati-hatian ekstra.
Meski demikian, tim gabungan tetap bertahan. TNI, Polri, BPBD, Basarnas, relawan, dan warga setempat bekerja bahu-membahu. Mereka tahu, di balik setiap gundukan tanah, ada keluarga yang menunggu kepastian. Ada seorang nenek yang hampir setiap detik menautkan harapannya pada kerja mereka.
Bagi Nenek Salamah, suara alat berat bukan lagi sekadar mesin. Itu adalah penanda hidup. Selama suara itu masih terdengar, selama tanah masih digali, berarti harapan belum sepenuhnya padam.
Di tengah hujan, lumpur, dan dingin yang menusuk, ia tetap duduk di sana. Menunggu keajaiban yang mungkin tak datang. Atau setidaknya, menunggu akhir dari penantian panjang agar ia tak lagi hidup dalam ketidakpastian yang perlahan menggerogoti sisa tenaganya.
Berdasarkan data posko penanganan bencana hingga hari ketujuh pencarian, longsor di Kampung Pasirkuning berdampak terhadap 158 warga. Sebanyak 55 orang dinyatakan meninggal dunia, dengan 41 jenazah berhasil diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).
Sementara itu, pencarian terhadap korban lainnya masih terus dilakukan di tengah keterbatasan cuaca dan kondisi medan yang berisiko tinggi. (Wit)
