Longsor di Kampung Pasirkuning, Cisarua, Bandung Barat menelan puluhan jiwa. Nenek Salamah duduk menanti harapan di tengah medan yang basah dan berbahaya, sambil mengandalkan doa dan kerja tim pencari.
Suwitno, Jabar Ekspres.
Hujan turun pelan di Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat. Tetesnya bercampur lumpur, menyentuh tanah cokelat yang masih menyimpan sisa-sisa kehidupan yang terkubur longsor.
Di antara suara hujan dan dengung alat berat yang tak pernah benar-benar berhenti, seorang nenek duduk terdiam. Namanya Salamah. Usianya 80 tahun. Rambutnya memutih, tubuhnya ringkih, dan hatinya hampir seluruhnya terkubur bersama longsor.
Baca Juga:Rutin Konsumsi Alpukat? Khasiatnya Gak Main-main!Sehat dan Berat Badan Stabil, Ini 5 Kebiasaan yang Bantu Metabolisme Bekerja Optimal
Tujuh hari sudah berlalu sejak tanah dari puncak Gunung Burangrang runtuh dan menelan permukiman warga. Bagi sebagian orang, tujuh hari mungkin sekadar hitungan waktu. Namun bagi Nenek Salamah, tujuh hari adalah rangkaian penantian yang panjang, berat, dan nyaris tanpa jeda. Setiap hari terasa sama, duduk, menunggu, berharap, lalu kembali menelan kecewa.
Di balik wajah tuanya yang keriput, tersimpan duka yang sulit dibayangkan. Longsor itu merenggut 17 anggota keluarganya sekaligus anak-anaknya, cucu-cucunya, darah daging yang selama ini menjadi alasan ia bertahan hidup di usia senja. Dalam satu malam, hampir seluruh dunia Nenek Salamah lenyap.
Ia masih mengingat jelas hari itu. Hujan turun deras sejak sore, lalu suara gemuruh datang seperti petir yang tak berkesudahan. Tanah bergerak, rumah-rumah runtuh, jeritan terdengar, lalu sunyi. Sejak saat itu, hidupnya berhenti di satu titik, yaitu menunggu.
Hingga Jumat (30/1/2026), dari 17 anggota keluarga yang tertimbun longsor, baru empat orang yang berhasil ditemukan tim pencari. Empat nama, empat jasad, empat kepastian di tengah belasan lainnya yang masih menjadi tanda tanya.
“Anak dan cucu saya ada 17 orang. Sampai sekarang baru empat yang ditemukan,” ucapnya lirih. Suaranya nyaris hilang, kalah oleh suara ekskavator yang mengeruk tanah tak jauh dari tempat ia duduk.
Tatapan matanya kosong, sesekali menatap ke arah gundukan tanah yang dulu adalah rumah. Setiap kali alat berat berhenti, harapannya tumbuh. Setiap kali petugas kembali tanpa membawa apa-apa, harapan itu runtuh lagi. Begitu seterusnya, berulang, tanpa jeda.
