JABAR EKSPRES – Perwakilan Tetap Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Vassily Nebenzia, menyatakan bahwa Israel tidak lagi memiliki alasan untuk menunda pembukaan kembali penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza–Mesir. Pernyataan itu disampaikan pada Rabu (28/1).
Nebenzia menegaskan, setelah jenazah sandera Israel terakhir dipulangkan dari Jalur Gaza, otoritas Israel seharusnya tidak lagi menangguhkan kewajiban kemanusiaan terhadap warga Gaza. Menurutnya, langkah konkret yang harus segera dilakukan adalah membuka kembali penyeberangan Rafah secara penuh.
Ia menyinggung pengumuman pembukaan penyeberangan tersebut pada 26 Januari, yang dinilai terlambat karena baru dilakukan sekitar tiga setengah bulan setelah kesepakatan gencatan senjata tercapai. Hal itu disampaikan Nebenzia dalam rapat Dewan Keamanan PBB yang membahas situasi Timur Tengah, termasuk persoalan Palestina.
Baca Juga:Dina Thorslund Naik Kelas Tantang Almudena Alvarez Demi Sabuk Interim WBCJepang Keluarkan Peringatan Virus Nipah untuk Warganya di India
“ini termasuk kebutuhan untuk membuka kembali sepenuhnya penyeberangan Rafah, yang baru diumumkan pada 26 Januari, tiga setengah bulan setelah perjanjian gencatan senjata,” ujarnya.
Selain itu, Nebenzia menyebut Rusia masih menantikan penjelasan lebih rinci dari Amerika Serikat mengenai rencana pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Force (ISF) di Jalur Gaza sebagai bagian dari inisiatif perdamaian AS.
“Kami menunggu rincian lebih lanjut dari pihak Amerika mengenai prospek penempatan Pasukan Stabilisasi Internasional di sektor tersebut, termasuk komposisi, jumlah, dan mandat misi ini,” ujar Nebenzia.
Ia menambahkan, dalam fase kedua rencana perdamaian AS yang memuat 20 poin, diatur sejumlah langkah penting, termasuk penarikan pasukan Israel dari area Gaza yang lebih luas, penempatan ISF, serta pembentukan struktur pemerintahan baru. Struktur tersebut mencakup pembentukan Dewan Perdamaian yang disebut akan dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump.
