JABAR EKSPRES – Optimalisasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) jadi salah satu siasat Pemprov Jabar untuk mendongkrak pendapatan. Kini Pemprov menunggu hasil audit keuangan untuk melengkapi audit terhadap BUMD.
Kepala Biro Badan Usaha Milik Daerah, Investasi, dan Administrasi Pembangunan (BIA) Setda Provinsi Jawa Barat Deny Hermawan menguraikan, sejatinya hasil audit terhadap BUMD telah tuntas dilakukan. Namun hasil audit itu akan dilengkapi audit keuangan yang dilakukan pihak BPK.
“Sudah ada, tapi akan dilengkapi dulu dengan audit keuangan. Kemungkinan tuntas Maret nanti,” katanya, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga:Reformasi Tata Kelola, Dedi Mulyadi akan Pangkas Puluhan BUMD Jabar Jadi Satu Holding Dedi Mulyadi Tegaskan Profesionalisme BUMD, Utang 2 Triliun Terungkap
Deny melanjutkan, audit investigasi dan audit keuangan itu bakal menjadi bahan pertimbangan. Utamanya dalam mengambil kebijakan atas keberlanjutan BUMD.
Di sisi lain, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi beberapa waktu lalu juga telah menyampaikan sejumlah wacana terkait nasib BUMD Jabar. Salah satunya terkait penggabungan BUMD.
Gambarannya adalah bakal hanya ada 2 BUMD, yakni Bank BJB dan BUMD hasil penggabungan. “Seluruh BUMD di Jawa Barat digabungkan menjadi satu BUMD di luar Bank BJB. Jadi nanti itu hanya ada dua, satu ada BJB, satu lagi ada BUMD yang digabungkan,” katanya, Kamis (22/1).
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menggelar pertemuan khusus dengan para pimpinan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Barat, Rabu (21/1).
Dalam forum tersebut, Dedi mempersilakan para pimpinan BUMD memaparkan kondisi terkini perusahaan yang mereka kelola. Direktur Utama Jamkrida Jabar, Bobby Cahyadi, menjelaskan peran Jamkrida serta kontribusi dividen yang telah disetorkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Paparan kemudian dilanjutkan oleh M. Deddy Gamawan dari PT Agronesia yang menguraikan unit-unit usaha perusahaan, mulai dari pabrik karet hingga Pabrik Es Saripetojo.
Saat menanyakan kondisi keuangan, Dedi mendapat informasi bahwa PT Agronesia masih memiliki utang sekitar Rp40 miliar, dengan saldo kas sekitar Rp1,5 miliar dan aset mencapai Rp365 miliar. (son)
