34 Jiwa Terancam Pasca Tebing 15 Meter di Cimanggung Longsor, Warga Diminta Tinggalkan Rumah

Forkopimcam Cimanggung, Kabupaten Sumedang saat membawa terpal penanganan pertama bencana longsor
Forkopimcam Cimanggung, Kabupaten Sumedang saat membawa terpal penanganan pertama bencana longsor di Desa Tegalmanggung yang mengancam 10 rumah. (Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ancaman bencana tanah bergerak membayangi permukiman warga di Dusun Situhiang, Desa Tegalmanggung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang.

Tebing setinggi sekitar 15 meter dilaporkan ambrol dan berpotensi memicu longsor lanjutan yang dapat membahayakan kawasan hunian di sekitarnya.

Insiden tersebut berdampak pada sedikitnya 10 unit rumah yang berada di jalur rawan. Total terdapat 10 kepala keluarga atau sekitar 34 jiwa yang kini berada dalam kondisi terancam dan diminta meningkatkan kewaspadaan, bahkan mengosongkan rumah untuk sementara waktu.

Baca Juga:DPRD KBB Fraksi PDI Perjuangan Kawal MBG Agar Berkualitas dan Tepat SasaranKritik PJU Berujung 'Undangan Klarifikasi', Warga Jabar Pertanyakan Ruang Aman Bersuara

Material tanah hasil runtuhan juga dilaporkan menutup sebagian saluran air, sehingga memperbesar risiko longsor susulan apabila hujan deras kembali mengguyur wilayah tersebut.

Camat Cimanggung Agus Wahyudin, melalui Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum (Kasie Trantibum) Didin Wahyudin, menyatakan bahwa aparat gabungan langsung diterjunkan ke lokasi setelah menerima laporan kejadian.

“Kami bersama aparat desa, unsur TNI, Polri, BPBD, serta tim kecamatan telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pemantauan dan penanganan awal,” katanya, Minggu (25/1).

Ia menjelaskan, peristiwa longsor terjadi pada Jumat dini hari, 24 Januari 2026, sekitar pukul 00.10 WIB. Fokus utama saat ini, kata dia, adalah menghindarkan warga dari potensi bahaya yang lebih besar.

Keselamatan warga menjadi prioritas. Pihaknya juga telah mengimbau warga yang rumahnya berada di titik rawan untuk tidak ditempati sementara waktu.

Sebagai langkah tanggap darurat, petugas telah memasang terpal penutup pada bagian tebing yang labil. “Kemudian membersihkan saluran drainase yang tertimbun material longsor dengan alat manual, serta menyusun agenda pembersihan material longsoran dan perkuatan tebing menggunakan bambu (perucukan) sebagai penahan sementara,” jelasnya.

Meski demikian, pihak kecamatan menilai upaya tersebut belum cukup untuk menjamin keamanan jangka panjang. Penanganan permanen dinilai mutlak diperlukan guna mencegah kejadian serupa terulang.

Baca Juga:Persib Hampir Full Team, Maung Bandung Siap Menggila di El Clasico IndonesiaBukan Sekadar Tiga Poin, Marc Klok Tegaskan Duel Persib vs Persija Soal Harga Diri Kota

Sejumlah kebutuhan mendesak pun telah dicatat, mulai dari tambahan terpal, pembangunan tembok penahan tanah permanen, bantuan logistik bagi warga terdampak, hingga ratusan karung untuk penanganan material longsor.

Hingga kini, kondisi lokasi masih berada dalam pengawasan ketat. Warga diminta tetap waspada, terutama saat hujan turun, serta mematuhi arahan petugas demi keselamatan bersama.

0 Komentar