Rumah Itu Pergi Saat Semua Masih Terlelap

Rumah Itu Pergi Saat Semua Masih Terlelap
Rumah milik Ahmad rata dengan tanah usai dihantam material longsor dari kaki Gunung Burangrang. Sabtu (24/1). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

“Alhamdulillah kami hidup. Tapi rumah sudah tidak ada. Barang-barang hancur semua,” ucapnya, menahan getar suara.

Kampung Pasirkuda, tempat Ule dan belasan keluarga lain bermukim, kini rata dengan tanah. Setidaknya 13 rumah rusak berat. Permukiman dan perkebunan warga melebur menjadi satu hamparan lumpur coklat yang membentang sepanjang kaki Gunung Burangrang.

Ule belum mengetahui nasib pasti para tetangganya. Ia belum sanggup bertanya, belum sanggup mendengar jawaban.

Baca Juga:Tancap Gas! Indonesia Manfaatkan WEF Davos 2026 untuk Perkuat Posisi di Mata Investor Global Reformasi Tata Kelola, Dedi Mulyadi akan Pangkas Puluhan BUMD Jabar Jadi Satu Holding 

Matanya kembali kosong saat menatap lokasi bencana. Wajahnya penuh kecemasan, bercampur lelah dan ketidakpastian.

“Saya belum siap cerita lebih jauh,” kata akhirnya. “Maaf.”

Di tengah suara alat berat dan hujan yang masih sesekali turun, Ahmad Ule berdiri di atas tanah yang pernah menjadi rumah. Tak ada lagi dinding untuk bersandar, tak ada atap untuk berlindung. Yang tersisa hanyalah keluarga yang selamat dan masa depan yang kini harus dibangun ulang dari puing dan lumpur. (Wit)

0 Komentar