Ia memilih bergerak, membawa aksara Sunda keluar dari buku dan museum agar kembali bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Setiap bulan, ia secara konsisten menggelar pelatihan dan workshop secara gratis.
Anak-anak sekolah dasar dan menengah pertama di Cimahi dan wilayah sekitarnya ia ajak mengenal kembali huruf-huruf yang dahulu menjadi sarana komunikasi nenek moyang mereka.
Baca Juga:Persib Hampir Full Team, Maung Bandung Siap Menggila di El Clasico IndonesiaBukan Sekadar Tiga Poin, Marc Klok Tegaskan Duel Persib vs Persija Soal Harga Diri Kota
Di ruang-ruang belajar itu, aksara Sunda diperkenalkan sebagai sesuatu yang dekat, bukan sebagai artefak masa lalu yang asing.
“Tidak cukup hanya mengajarkan cara menulisnya. Kita harus membuatnya hidup,” ujarnya sambil menunjukkan beragam produk kreatif berbasis aksara Sunda.
Kaligrafi yang menghiasi kanvas, alat tulis dengan motif huruf tradisional, hingga desain pakaian yang menyatu dengan gaya zaman menjadi cara Mang Ujang mendekatkan aksara dengan generasi muda.
Upaya tersebut perlahan membuka jalan kolaborasi yang lebih luas. Kerja samanya dengan sejumlah sekolah di Jawa Barat mendorong aksara Sunda masuk ke dalam kurikulum muatan lokal.
Langkah ini memberi kesempatan bagi ribuan siswa untuk mengenal warisan budaya mereka sejak dini, tidak hanya sebagai materi pelajaran, tetapi sebagai bagian dari identitas.
Di luar aktivitas edukasi, Mang Ujang juga melakukan kerja sunyi yang jarang terlihat. Ia mendokumentasikan berbagai bentuk tulisan aksara Sunda dari seluruh pelosok Jawa Barat, mencatat ragam variasi dan konteks penggunaannya.
Dokumentasi tersebut kemudian disusun dalam buku referensi yang kini menjadi rujukan penting bagi peneliti, pegiat budaya, dan penggemar aksara Sunda.
Baca Juga:Di Bawah Kepemimpinan Prabowo, Mentan Amran Antar Indonesia Capai Swasembada Pangan 2025Meski Pincang, Macan Kemayoran Pede Tantang Persib di GBLA
“Kita tidak bisa hanya menyimpan aksara di dalam buku atau museum semata. Ia harus hidup dan berkembang bersama masyarakat,” tandasnya.
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, apa yang dilakukan Mang Ujang Laip menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan akar.
“Selama aksara Sunda masih dipelajari, ditulis, dan digunakan, identitas itu tetap bernapas, menolak lenyap di antara hiruk-pikuk modernitas,” tandasnya. (Mong)
