Lewat Inovasi dan Sinergi, Kepala Desa Cintaratu Ciamis Tuntaskan 31 Kasus Stunting dalam Dua Tahun

Lewat Inovasi dan Sinergi, Kepala Desa Cintaratu Ciamis Tuntaskan 31 Kasus Stunting dalam Dua Tahun
Kader Posyandu 6 SPM Nusa Indah 1 saat melakukan pemantauan terhadap balita atau anak usia dini, Selasa (13/1/2026). Desa Cintaratu Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis berhasil menuntaskan kasus stunting dari 31 menjadi nol kasus. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Prestasi gemilang diukir oleh Kepala Desa Cintaratu, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Ahmad Musadad. Dalam kurun waktu dua tahun, desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap dan Kota Banjar itu berhasil menurunkan angka stunting dari 31 kasus menjadi nol. Keberhasilan ini menjadi buah dari komitmen kuat, penganggaran tepat, dan sejumlah inovasi berbasis masyarakat.

Awalnya, pada masa kepemimpinan Ahmad Musadad dimulai, tercatat ada 31 balita rentang usia satu hingga lima tahun di Desa Cintaratu yang teridentifikasi mengalami stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan asupan gizi.

Menghadapi tantangan ini, Ahmad Musadad langsung bergerak cepat dengan memfokuskan anggaran desa dan memanfaatkan bantuan dari Dinas Kesehatan melalui Puskesmas untuk penanganan serius.

Baca Juga:Stunting Action Hub Antarkan Telkom Raih Penghargaan di ICCS Summit 2025Dosen UBK Gelar Program Inovasi PMT SEHAT untuk Cegah Stunting pada Balita di Palasari Cibiru

Strategi utamanya adalah melalui intervensi gizi spesifik. Desa ini secara konsisten menyelenggarakan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang diformulasikan khusus.

“Kami bekerjasama dengan pendamping desa dan kader, bikin PMT khusus. Yang stunting kita kasih belut yang diperkaya daun kelor,” jelas Ahmad Musadad, Selasa (13/1/2026).

PMT tersebut dirancang dengan kandungan nutrisi dan protein tinggi sesuai rekomendasi dan konsultasi dari ahli gizi, menjadikannya intervensi yang tepat sasaran.

Namun, kerja keras tidak berhenti di situ. Fondasi keberhasilan ini diletakkan pada penguatan sistem kesehatan di tingkat dasar.

Desa Cintaratu telah berhasil membentuk dan mengoperasionalkan enam Posyandu dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang lengkap.

Keenam Posyandu ini tidak hanya fokus pada kesehatan, tetapi juga mengintegrasikan layanan di bidang pendidikan, sosial, pekerjaan umum, perumahan rakyat, serta ketertiban dan perlindungan masyarakat (Tantibum Linmas).

Sebanyak 90 kader posyandu yang terlatih menjadi ujung tombak dalam melayani 40 Rukun Tetangga (RT) di desa tersebut.

Baca Juga:Cegah Stunting Sejak Pra-Nikah, Cimahi Perkuat Program One Stop Service untuk Calon PengantinAngka Stunting Masih Tinggi, Pemkab Bandung Dorong Intervensi Gizi Lewat Program Geber Tuntas dan Gekksor

Inovasi teknologi juga menjadi pendorong kesuksesan. Kader-kader posyandu, di bawah koordinasi Musadad, mengembangkan sebuah sistem informasi digital bernama Sistem Informasi Bebas Stunting (Sibesti).

Sistem ini memungkinkan pemantauan dan pencatatan data yang lebih akurat dan real-time, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, balita, hingga ibu menyusui.

“Untuk penanganan stunting dari mulai pencegahan dilakukan sejak ke Calon Pengantin, Ibu Hamil, Balita, Ibu Menyusui,” ujar Iin Inayati, Kader Posyandu Nusa Indah 1, menjelaskan pendekatan berjenjang yang diterapkan.

0 Komentar