Di sepak bola modern, ada satu pertanyaan yang jarang muncul di Eropa atau Amerika Selatan, tapi rutin terdengar di Indonesia, “Tim lawan berangkat pakai Barracuda?”
Sadam Husen Soleh Ramdhani, Jabarekspres.
Ketika Persija Jakarta dan Persib Bandung bertemu, pertanyaan itu bukan hiperbola. Ia realitas. Kendaraan taktis lapis baja, yang diciptakan untuk menghadapi konflik bersenjata, menjadi alat transportasi pemain sepak bola. Sebuah ironi yang telanjang, rivalitas ini telah melampaui batas sportivitas.
Barracuda adalah pesan. Pesan bahwa negara tak lagi percaya pada kendali massa sipil. Pesan bahwa emosi publik dinilai lebih berbahaya daripada risiko pertandingan itu sendiri.
Baca Juga:Lapas Banjar Darurat Dokter, Pemkot Siapkan Bantuan SementaraPemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov Jabar
Di laga Persija vs Persib, Barracuda digunakan bukan karena atmosfer stadion panas, tetapi karena jalan menuju stadion dianggap zona rawan. Bukan 90 menit yang ditakuti, melainkan perjalanan sebelum dan sesudahnya. Ini bukan soal pengamanan ekstra. Ini soal ketiadaan rasa aman.
Ambil Derby della Madonnina, Inter vs AC Milan. Rivalitas satu kota, satu stadion, dua warna, sejarah panjang, dan basis ultras yang fanatik. Nyanyian keras, koreografi provokatif, flare membara. Tapi bus tim? Datang dengan pengawalan polisi standar. Tanpa baja. Tanpa kaca antipeluru.
Atau El Clasico, Real Madrid vs Barcelona. Pertarungan identitas politik, bahasa, bahkan sejarah negara. Ketegangan ideologis yang jauh lebih dalam daripada sekadar kota. Namun pemain datang dengan bus biasa. Negara hadir, tapi tidak mengambil alih sepenuhnya. Di sana, rivalitas dijaga agar tetap menjadi ritual olahraga, bukan konflik sosial.
Lalu kita menuju Buenos Aires, River Plate vs Boca Juniors. Salah satu derby paling brutal secara atmosfer di dunia. Lagu, makian, intimidasi, bahkan sejarah kekerasan.
Namun sekalipun laga ini sempat dipindahkan ke Madrid karena kerusuhan, penggunaan kendaraan militer lapis baja bukan rutinitas. Negara bertindak saat krisis, bukan menjadikannya prosedur tetap.
Barracuda di Indonesia justru sebaliknya: normalisasi kondisi darurat.
Ketika pemain Persib atau Persija naik Barracuda, mereka tidak lagi diperlakukan sebagai atlet, melainkan objek perlindungan negara. Ini menandakan satu hal penting, rivalitas ini tak lagi sepenuhnya milik sepak bola. Ia telah berubah menjadi persoalan keamanan publik.
