Di titik ini, yang dipertaruhkan bukan hanya tiga poin, tapi wibawa liga, citra suporter, dan kesehatan ekosistem sepak bola nasional. Karena tak ada liga besar di dunia yang bangga mengiklankan laga unggulannya dengan iring-iringan kendaraan tempur.
Rivalitas seharusnya hidup dari: gol penentu, ejekan kreatif, adu taktik, tekanan mental di stadion. Bukan dari kaca antipeluru sirene, aparat bersenjata, ketakutan di jalanan.
Barracuda adalah bukti bahwa rivalitas Persija vs Persib telah keluar dari relnya. Bukan karena fanatisme, tetapi karena kegagalan mengelola fanatisme.
Baca Juga:Lapas Banjar Darurat Dokter, Pemkot Siapkan Bantuan SementaraPemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov Jabar
Eropa dan Amerika Selatan mengajarkan satu hal, rivalitas bisa sangat panas tanpa harus sepenuhnya dikuasai negara. Indonesia belum sampai ke sana. Selama Barracuda masih menjadi bagian dari laga terbesar negeri ini, maka kita harus jujur mengakui, bukan rivalitasnya yang hebat, tapi masalahnya yang besar.
Dan sampai kapan sepak bola Indonesia mau menerima kenyataan bahwa pertandingan paling bergengsi justru yang paling tidak aman?
Karena hari ketika Persija vs Persib tak lagi membutuhkan baja di jalanan itulah hari ketika rivalitas ini akhirnya dewasa. (Dam)
