JABAR EKSPRES – Tahun baru selalu datang membawa jeda, ruang sunyi untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk aktivitas dan bertanya dengan jujur pada diri sendiri, ke mana arah langkah ini akan dibawa? Bagi saya, sebagai Ketua KAMMI Jabar, pergantian tahun bukan sekadar momen refleksi personal, tetapi juga momen menimbang amanah kolektif yang dipikul bersama kader dan umat.
Kepemimpinan dalam gerakan mahasiswa tidak pernah sesederhana jabatan struktural. Ia adalah tanggung jawab moral untuk menjaga idealisme tetap hidup, sekaligus tanggung jawab intelektual untuk memastikan gerakan tidak kehilangan arah dan relevansi. Sepanjang tahun yang berlalu, saya belajar bahwa semangat saja tidak cukup. Gerakan membutuhkan disiplin berpikir, ketajaman membaca konteks, dan keberanian untuk mengambil sikap yang tidak selalu populer.
Dalam ruang publik, KAMMI sering ditempatkan sebagai kekuatan kritis. Itu benar, tetapi kritik tanpa kedalaman analisis hanya akan menjadikan gerakan reaktif dan mudah dilupakan. Tahun ini mengajarkan bahwa peran mahasiswa, termasuk KAMMI harus melampaui sekadar menolak atau menuntut. Kita dituntut untuk hadir dengan gagasan, menawarkan alternatif, dan terlibat secara strategis dalam proses kebijakan publik, tanpa kehilangan independensi moral.
Baca Juga:Review Drakor Pro Bono Episode 7–8: Kasus Idol dan Sengketa Keluarga Ungkap Luka Lama & Manipulasi KekuasaanUMR 2026 Jawa Barat: Bocoran Kenaikan UMP, UMK Bekasi hingga Karawang Diprediksi Naik
Sebagai Ketua KAMMI Jabar, saya semakin menyadari bahwa jarak antara idealisme dan kebijakan publik sering kali diisi oleh kesalahpahaman. Negara tidak selalu gagal karena niat buruk, tetapi sering kali karena keputusan diambil tanpa basis pengetahuan yang memadai dan tanpa partisipasi bermakna. Di sinilah gerakan mahasiswa memiliki peran penting, menjadi jembatan antara nurani publik dan rasionalitas kebijakan.
Resolusi saya di tahun baru ini sederhana namun berat, memastikan KAMMI Jawa barat tidak hanya menjadi penonton atau pengganggu dalam proses pembangunan, tetapi mitra kritis yang berkontribusi secara substantif. KAMMI Jawa barat harus mampu mengartikulasikan kegelisahan umat dan rakyat dalam bahasa kebijakan yang dapat dipahami dan dipertimbangkan oleh pengambil keputusan. Tanpa itu, suara kita akan berhenti sebagai gema di jalanan, bukan menjadi bagian dari arah perubahan.
Tahun baru juga menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gerakan harus dibangun di atas keteladanan. Integritas tidak bisa dideklarasikan, ia hanya bisa ditunjukkan melalui konsistensi sikap, kesediaan mendengar kritik, dan keberanian untuk mengoreksi diri. Sebagai Ketua KAMMI Jawa barat, saya meyakini bahwa kekuatan organisasi bukan hanya terletak pada seberapa keras kita bersuara, tetapi seberapa jujur kita menjaga nilai-nilai dasar perjuangan.
