Beralih ke Rumah Minimalis: Kawasan Urban dengan Prinsip Less is More 

Beralih ke Rumah Minimalis: Kawasan Urban dengan Prinsip Less is More 
Konsep \"Less is More\" yang dicetuskan Ludwig Mies van der Rohe berhasil menunjukkan bahwa pengurangan elemen dekoratif justru mampu memperkuat karakter desain dan membuat hunian lebih esensial dengan kebutuhan.
0 Komentar

Oleh: Gladys Yessica Benneta

Konsep “Less is More” yang dicetuskan Ludwig Mies van der Rohe berhasil menunjukkan bahwa pengurangan elemen dekoratif justru mampu memperkuat karakter desain dan membuat hunian lebih esensial dengan kebutuhan.

Tidak mengherankan bila prinsip “Less is More” banyak disukai karena menghadirkan estetika yang bersih, rapi, serta mudah beradaptasi dengan kebutuhan ruang modern.

Prinsip ini juga memungkinkan arsitek untuk lebih fokus pada kualitas ruang daripada kuantitas elemen dekoratif yang digunakan. Penerapannya dapat terlihat dari penggunaan warna netral dan material alami yang memberikan kesan ringan namun tetap tegas.

Baca Juga:Sidang Lanjutan Gugatan Cerai Digelar, Atalia Praratya Hadir di Pengadilan Agama BandungPersib Diuji di Kediri, Laga Tandang Penentu Mental Juara Maung Bandung

Selain itu, tata ruang terbuka dengan minim sekat juga menjadi contoh bagaimana kesederhanaan dapat tetap menghadirkan ruang yang fungsional dan nyaman.

Arsitektur minimalis membuat lahan yang terbatas dapat dioptimalkan sehingga hunian terasa nyaman bagi penghuninya di tengah kepadatan kota. Tren hunian minimalis banyak dipilih di kawasan urban karena desainnya mampu memanfaatkan secara efisien luas lahan.

Dikutip dari Arsitektur Hijau menyebutkan bahwa rumah minimalis cocok diterapkan di “berbagai ukuran lahan, baik lahan kecil maupun luas,” karena tata letak yang fleksibel memaksimalkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami.

Dengan demikian, meskipun berada di lingkungan padat, penghuni tetap dapat merasakan kenyamanan dan kesan lega. Sebagai contoh, hunian minimalis dengan ruang terbuka atau open-plan menggabungkan ruang tamu, ruang makan, dan dapur dalam satu area sehingga penghuni tidak merasa sesak meski rumah berukuran kecil.

Gaya arsitektur minimalis mempunyai kemampuan untuk menjadi timeless melalui pengolahan warna, pemilihan bahan, dan juga penggunaan material bangunan yang selaras dengan prinsip kesederhanaan dan kejelasan bentuk.

Minimalisme menekankan bentuk yang sederhana, warna-warna netral, dan penggunaan material yang fungsional tanpa hiasan berlebihan sehingga tampilannya tetap cocok digunakan meskipun tren terus berubah.

Siti Badriyah (2010) menegaskan bahwa struktur geometris sederhana, warna netral seperti putih atau abu-abu, dan proporsi bangunan yang kompak membuat rumah tetap tampil minimalis dan stabil secara estetika.

Baca Juga:Dari Abon hingga Rendang, Produk Nasabah PNM Disalurkan untuk Masyarakat Terdampak Bencana di SumateraPersib Mantap Di Puncak Klasemen, Eliano Bicara Soal Dukungan Bobotoh

Dengan begitu, rumah minimalis dengan fasad sederhana, material pabrikasi, dan komposisi bangunan yang tertata akan tetap elegan dan modern dalam jangka panjang.

0 Komentar