Kenaikan Harga dan Penurunan Spesifikasi
Kelangkaan RAM global pada 2026 diperkirakan memukul keras ponsel entry-level. Harga bisa naik hingga lebih dari Rp1 juta per unit, sementara kapasitas RAM justru turun.
Banyak produsen diprediksi menurunkan RAM dari 6–8GB menjadi hanya 4GB demi menekan biaya produksi.
Jumlah ponsel dengan RAM 12GB juga diperkirakan turun hingga 40 persen. Beberapa vendor mungkin menghadirkan kembali slot microSD sebagai solusi tambahan, tetapi langkah ini tetap menjadi kompromi karena kecepatan memori eksternal tak bisa menandingi memori internal.
Baca Juga:8 Fitur Menarik Oppo A6 Hp Entry-level yang Next Level di Indonesia, Harga Cuma Rp2 JutaanVivo X300 Tampil Beda, Inilah Fitur-Fitur Unggulan yang Sulit Ditemukan di HP Lain
Di sisi perangkat lunak, Android akan semakin dioptimalkan untuk RAM rendah, meniru pendekatan iOS. Namun, dampaknya tetap terasa pada multitasking, performa gaming, dan adopsi fitur AI di segmen murah yang berjalan lebih lambat.
Penjualan Global Menyusut
Lembaga riset memperkirakan penjualan smartphone global menyusut sekitar 2,1 persen akibat krisis ini. IDC bahkan memproyeksikan ASP smartphone global mencapai 511 dolar AS, dengan dampak terberat pada segmen entry-level dan pasar berkembang seperti Indonesia.
Produsen seperti Xiaomi disebut semakin kesulitan menjual ponsel murah, sehingga HP di bawah Rp3 juta berpotensi menjadi barang langka. Penurunan pengiriman global sebesar 0,9–2,1 persen juga menekan ketersediaan stok entry-level di dalam negeri.
Saran untuk Konsumen
Bagi konsumen disarankan mempertimbangkan pembelian ponsel lebih awal sebelum kenaikan harga semakin terasa. Alternatif lain adalah memilih ponsel bekas berkualitas atau refurbished resmi untuk mendapatkan spesifikasi lebih baik dengan harga lebih rasional.
Krisis RAM global pada 2026 bukan hanya soal harga naik, tetapi juga menandai perubahan besar dalam strategi industri smartphone, terutama bagi segmen entry-level yang selama ini menjadi andalan pasar Indonesia.*
