Meski menggoda, candied salmon bisa berbahaya jika proses pengolahannya tidak tepat. Salmon mentah berisiko mengandung bakteri dan parasit berbahaya.
Proses marinasi menggunakan gula atau sirup maple tidak otomatis membunuh patogen seperti Salmonella, Listeria monocytogenes, E. coli, atau Norovirus.
Jika terkontaminasi, konsumsi candied salmon dapat menyebabkan gejala keracunan makanan seperti diare, muntah, sakit perut, dan demam.
Baca Juga:9 Lokasi untuk Menyaksikan Kembang Api Tahun Baru di Bandung, Favorit Warga hingga WisatawanRekomendasi Tempat Kuliner di Majalengka yang Wajib Dikunjungi saat Liburan
Dalam kasus tertentu, infeksi bisa berkembang menjadi komplikasi serius seperti listeriosis atau infeksi parasit cacing pita. Proses pengasapan ringan atau pembekuan rumahan juga tidak selalu cukup untuk menghilangkan seluruh ancaman mikroorganisme.
Kelompok yang Harus Lebih Waspada
Beberapa kelompok disarankan untuk menghindari candied salmon sepenuhnya. Ibu hamil, anak-anak, lansia, serta individu dengan sistem imun lemah seperti penderita kanker, diabetes, atau HIV, memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius akibat infeksi makanan.
Bagi kelompok ini, tren kuliner viral sebaiknya tidak diikuti tanpa pertimbangan kesehatan yang matang.
Kesimpulan
Candied salmon memang menawarkan daya tarik visual dan cita rasa yang unik sehingga mudah viral di media sosial dan menggugah rasa penasaran banyak orang. Namun, di balik tampilannya yang menggoda dan proses pembuatan yang terlihat sederhana, terdapat risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan.
Pengolahan salmon mentah memerlukan prosedur keamanan pangan yang ketat, karena marinasi dengan gula atau sirup maple tidak cukup untuk membunuh bakteri dan parasit berbahaya.
Tanpa penanganan yang tepat, candied salmon berpotensi menyebabkan keracunan makanan hingga komplikasi serius, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, lansia, dan individu dengan daya tahan tubuh lemah.
Oleh karena itu, meski tren ini menarik untuk dicoba, konsumen perlu lebih bijak, memahami risikonya, serta mengutamakan keamanan dan kesehatan dibanding sekadar mengikuti popularitas di media sosial.*
