JABAR EKSPRES – Menjelang tahun baru, prediksi harga emas 2026 secara global diproyeksikan terus menguat sepanjang 2026 karena meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia. Beberapa lembaga keuangan internasional ternama bahkan memperkirakan harga emas akan mencetak rekor baru.
Goldman Sachs memproyeksikan harga emas dunia dapat mencapai US$4.900 per ons pada akhir 2026, sementara JP Morgan melihat potensi kenaikan hingga US$5.055 per ons. Prediksi prediksi harga emas 2026 perlu diketahui tentunya, karena sebagai salah satu aset lindung nilai paling menjanjikan dalam beberapa tahun ke depan.
Sementara itu, harga emas di Indonesia juga berpeluang mengalami lonjakan signifikan. Saat ini, harga emas domestik berada di kisaran Rp2,4–2,5 juta per gram. Sebagai gambaran, harga beli emas digital IndoGold tercatat sekitar Rp2.485.497 per gram, sementara emas batangan Antam berada di kisaran Rp2,4 juta per gram.
Baca Juga:Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi, Antam Tembus Rp 2,56 Juta per GramHarga Perak Hari Ini 22 Desember 2025 Naik Tipis, Dipicu Sentimen Safe Haven
Dengan asumsi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada di sekitar Rp16.790, harga emas dalam negeri diperkirakan bisa menembus Rp2,6 hingga Rp3 juta per gram pada 2026.
Bank-bank besar dunia memprediksi harga emas global bergerak di rentang US$4.000 hingga US$5.300 per ons. Selain Goldman Sachs dan JP Morgan, Bank of America juga melihat peluang emas mencapai level psikologis US$5.000 per ons.
Hal tersebut ini didorong oleh meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral berbagai negara serta arus masuk dana ke instrumen Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas.
Di Indonesia, dampak kenaikan harga emas global akan terasa cukup signifikan. Jika harga emas dunia benar-benar menembus level US$4.900–5.000 per ons, harga emas Antam maupun IndoGold berpotensi naik sekitar 20–23 persen.
Dengan skenario tersebut, prediksi harga emas 2026 bisa berada di kisaran Rp2,6–2,8 juta per gram, bahkan tidak menutup kemungkinan menyentuh Rp3 juta per gram pada kuartal pertama 2026. Namun, realisasi angka tersebut tetap sangat bergantung pada pergerakan kurs rupiah dan tingkat inflasi domestik.
Sejumlah faktor utama menjadi pendorong kenaikan harga emas, mulai dari pembelian agresif oleh bank sentral, melemahnya dolar AS, hingga potensi penurunan suku bunga acuan The Federal Reserve. Selain itu, ketegangan geopolitik global dan meningkatnya minat investor ritel untuk melindungi nilai aset dari inflasi turut memperkuat prospek emas.
