JABAR EKSPRES – Longsor berulang di Kampung Walihir, Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kembali mengancam jalan penghubung antar kecamatan.
Jalan kabupaten ini menjadi akses vital yang menghubungkan Desa Situwangi, Kecamatan Cihampelas, dengan Desa Kidangpananjung hingga Mukapayung, Kecamatan Cililin.
Tebing di sisi jalan yang terus bergerak membuat jalur ini rawan tertutup material longsor, terutama saat hujan deras. Sebelumnya, badan jalan sempat tertimbun material longsor sehingga tidak bisa dilalui kendaraan.
Baca Juga:Kesabaran Berbuah Gol, Ramon Tanque Menjelma Jadi Bomber MematikanWiliam Marcilio Tutup Bab di Persib dengan Sikap Hormat dan Syukur
Untuk membuka kembali akses utama tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB mengerahkan alat berat pada Sabtu (20/12/2025). Upaya pembersihan ini membuat jalur kembali bisa dilewati, meski sifatnya sementara.
“Itu memang awalnya sudah terdampak longsor beberapa waktu lalu. Tapi kami sudah kerahkan alat berat dan alhamdulillah sekarang sudah bisa dilewati. Meski begitu, pengendara tetap harus hati-hati karena jalannya masih licin,” ujar Petugas Lapangan BPBD KBB, Suheri saat dikonfirmasi, Senin (22/12/2025).
Suheri menjelaskan, longsor susulan kembali menutup sebagian badan jalan dengan material tanah dan batu.
Pemerintah Desa Kidangpananjung pun berkoordinasi dengan BPBD KBB untuk meminta bantuan alat berat guna membuka akses penghubung antar kecamatan itu.
Meski kini jalur sudah bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, Suheri menegaskan potensi longsor susulan tetap tinggi.
“Kondisi tanah tebing dinilai sangat labil dan berpotensi kembali runtuh jika hujan deras terjadi,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD KBB, Asep Sehabudin, menambahkan bahwa penanganan yang dilakukan saat ini masih bersifat darurat.
Baca Juga:PWNU Jabar dan 27 PCNU Tegaskan Sikap, Dorong Islah dan Jaga Marwah PBNUJawa Tengah Terbang Tinggi, Rute Penerbangan Baru Picu Investasi dan Kunjungan Wisata
Pembersihan material longsor saja tidak cukup untuk menjamin keamanan jangka panjang bagi pengguna jalan.
“Tanahnya masih terus bergerak. Jadi meskipun sekarang sudah bisa dilewati kendaraan, potensi longsor susulan tetap ada, apalagi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi di Bandung Barat,” ujar Asep.
Menurut Asep, penanganan permanen sangat dibutuhkan, berupa pemasangan tembok penahan tanah (TPT) atau bronjong di sepanjang tebing yang rawan runtuh.
Tanpa upaya ini, jalur penghubung antar kecamatan berisiko putus total.
“Supaya benar-benar aman, harus dipasang TPT atau penahan lainnya. Kalau tidak, longsor susulan bisa kembali terjadi dan akses jalan ini berpotensi terputus,” tegasnya.
