Untuk itu sebagai solusi, dengan cara merubah status mereka menjadi petani penggarap atau bukan lagi buruh atau kuli dengan begitu, para petani dapat penghasilan mencukupi. Meski begitu, untuk komoditi tanaman yang ditanam tidak boleh diubah. Para petani harus diajarkan pola menanam dan menjaga ekosistem lingkungan di kawasan dataran tinggi. “Kasus Pangalengan misalnya, mereka kan kebanyakan kuli. Makanya ini skema akan diupayakan dirubah, ” cetusnya. Hal itu juga akan dikolaborasikan dengan lahan-lahan Perhutani. Skema ini tujuannya agar upah para petani bisa lebih meningkat.
Bappenas Soroti Pembangunan di Jabar Tidak Merata
Masalah kemiskinan di Jawa Barat mendapat sorotan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Direktur Pembangunan Indonesia Barat Kementerian Bappenas, Jayadi mengungkapkan, berdasarkan hasil evaluasi kemiskinan dan ketipangan dalam pendapatan masyarakat masih jadi persoalan. “Hasil evaluasi triwulan ketiga 2025 menunjukkan tantangan serius dalam pemerataan kesejahteraan di Jawa Barat,’’ ujar Jayadi.
Menurutnya, tingkat kemiskinan Jawa Barat masih berada di atas rata-rata nasional. Lebih miris lagi kemiskinan banyak terkonsentrasi di wilayah kawasan Rebana. Jayadi juga memaparkan, konsentrasi kemiskinan di wilayah Selatan Jawa Barat sangat signifikan. Hampir sekitar seperempat penduduk miskin ini berada di wilayah Jawa Barat bagian Selatan. ‘’Itu kalau lihat dari data yang ada,” ujarnya.
Baca Juga:Terdampak Banjir Sumatra, 100 Warga Dipulangkan Pemprov JatengTanggapi Kisruh di PBNU, PWNU Jabar Berikan Pernyataan Sikap
Jayadi berpendapat, seharusnya strategi penanggulangan kemiskinan di Jabar harusnya banyak difokuskan pada penyediaan layanan dasar, terutama di desa dan perdesaan. Peningkatan aksesibilitas, pengurangan beban pengeluaran, terutama dengan beberapa program-program kegiatan bansos dan jaminan sosial yang biasa dilakukan di beberapa daerah. Di sisi lain, Jayadi mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Barat relatif stabil dan melebihi target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025.
Selain itu, dari sisi pertumbuhan ekonomi ini dengan rata-rata di 3 triwulan tahun 2025 ini rata-rata 5,14 persen di mana masih berada di atas rata-rata nasional yaitu sebesar 5,1 persen. Akan tetapi, kendala ketimpangan pendapatan masih membayangi capaian tersebut. Masalah ini masih menjadi pekerjaan rumah. Dimana rasio gini masih di atas target Rencana Kerja Pemerintah pada 2025. ‘’Saya berharap data akhir tahun dari BPS dapat menunjukkan hasil yang lebih optimal,’’ pungkasnya. (son/yan)
