Pemkot Bandung Fokus Benahi Drainase dan Kaji Sistem Pengendalian Banjir ala Belanda

Foto Ilustrasi Banjir Kota Bandung. (Sadam Husen/JE)
Foto Ilustrasi Banjir Kota Bandung. (Sadam Husen/JE)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Bandung mulai mengarahkan kebijakan penanggulangan banjir secara lebih terfokus dan terukur. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa pemerintah kini telah mengidentifikasi penyebab utama banjir yang kerap terjadi di sejumlah wilayah Kota Bandung, yakni persoalan sistem drainase yang belum optimal.

Menurut Farhan, selama ini upaya penanganan banjir sering kali dilakukan secara parsial. Namun ke depan, Pemkot Bandung akan lebih serius melakukan perbaikan dan pembenahan drainase sebagai fondasi utama pengendalian banjir.

“Sekarang kita sudah tahu permasalahan banjir di kita itu apa. Drainase. Jadi sekarang kita fokuskan perbaikan drainase terus,” ujar Farhan, beberapa waktu lalu.

Baca Juga:Tingkatkan Keterampilan Warga Usia Produktif, Pelatihan Menjahit Garmen Digelar di PamulihanDorong Hilirisasi Gas Bumi, PGN Tingkatkan Pemanfaatan Jadi Produk Bernilai Tinggi

Ia menjelaskan, sistem drainase di Kota Bandung menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kapasitas saluran yang tidak lagi memadai, sedimentasi, hingga tersumbatnya aliran air akibat sampah dan material lainnya. Kondisi tersebut membuat air hujan sulit mengalir dengan cepat, terutama saat intensitas hujan tinggi.

Selain membenahi drainase, Pemkot Bandung juga tengah melakukan kajian terhadap metode pengendalian banjir yang diterapkan di negara lain, salah satunya Belanda. Negara tersebut dikenal memiliki teknologi pengelolaan air yang maju, terutama dalam mengatasi ancaman banjir di wilayah dataran rendah.

“Sekarang juga kita lagi fokus kajian untuk meniru cara penanggulangan banjir seperti di Belanda. Karena yang saya khawatirkan adalah ketika terjadi banjir dari Maribaya sampai Manglayang,” kata Farhan.

Kekhawatiran tersebut, lanjut Farhan, bukan tanpa alasan. Kawasan hulu di sekitar Maribaya hingga Manglayang kerap menjadi sumber banjir kiriman ke wilayah Kota Bandung, terutama saat hujan deras berlangsung dalam waktu lama. Selain volume air yang besar, banjir kiriman tersebut juga sering membawa material berbahaya.

“Manglayang itu suka ada kayu gelondongan yang terbawa. Ini tentu sangat berisiko,” ujarnya.

Farhan menjelaskan, salah satu konsep yang sedang dikaji adalah sistem yang memungkinkan air yang telah mengalir ke wilayah bawah untuk didorong kembali ke arah atas atau dialihkan secara terkontrol. Konsep ini terinspirasi dari sistem pengendalian air di Belanda yang memanfaatkan kincir angin dan teknologi pompa air.

0 Komentar