Bukti Nyata Hikmah Dari Istiqomah, Saat Meninggalkan Sesuatu Demi Allah Ta'ala

ILUSTRASI hikmah dari istiqomah . (freepik)
ILUSTRASI hikmah dari istiqomah . (freepik)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Umat manusia di era modern senantiasa memiliki banyak pertimbangan jika harus meninggalkan suatu perkara demi Allah Ta’ala.

Banyak yang bimbang saat harus menentukan untuk tetap istiqomah dalam ketaatan dengan pilihan melakukan atau menghindari suatu hal, disaat tahu bahwa yang dilakukan adalah sebuah maksiat atau dosa.

Untuk memberikan gambaran, bahwa memutuskan meninggalkan suatu perkara karena Allah akan memberikan hikmah yang besar, kita bisa melihat beberapa contoh yang menjadi bukti bahwa janji Allah tersebut adalah nyata.

Baca Juga:Takut Begal, Ojol Minta Bantuan Polisi Dikawal Untuk Antar PesananBenarkah Bikin SIM Gratis Sampai Akhir Tahun ini? Cek Faktanya

Dilansir dari tulisan Ustadz Berik Said, yang bisa meningkatkan pengetahuan dan keyakinan kita, bahwa memprioritaskan Allah pasti akan membawa kebaikan dikemudian hari.

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:إنك لَن تدَع شيئًا للهِ عزَّ وجلَّ إلا بدَلك اللهُ به ما هو خيرٌ لكَ منه

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu”. HR. Ahmad (21.996); Kata al Albani rohimahulloh dalam As Shohihah (II:734) Shohih]

Hadits di atas sebagaimana menurut ulama berlaku umum untuk siapapun yang meninggalkan apapun semata-mata mempertimbangkan agama Allah dan karena Allah semata.

Pengen contoh nyata kebenaran hadits di atas ?

Lihat apa yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim ‘alaihis sholaatu wa sallam.

Beliau tinggalkan keluarga dan kaumnya serta kampung halamannya yang sebenarnya itu sangat berat dan menimbulkan konflik batin yang luar biasa, sangat menyakitkan, dan mencemaskan.

Namun, hal itu pada akhirnya tetap beliau tempuh manakala keluarga, kerabat, teman, kaum, dan kampung halamannya tidaklah mendukung sama sekali pada tauhidnya, bahkan terus memaksanya untuk ikut pada kemusyrikan.

Beliau tinggalkan semua yang sebenarnya sangat dicintainya tersebut semata-mata karena lebih mengedepankan cintanya pada Tauhidulloh.

Baca Juga:Terkoneksi dengan Hati, ICONNET Sigap Menyalurkan Bantuan untuk Korban Banjir PadangTerkoneksi dengan Hati, PLN Icon Plus Sigap Menyalurkan Bantuan Banjir Bandang di Medan, Padangsidimpuan, Lhok

Maka, sebagai balasan perbuatannya meninggalkan sesuatu karena Allah itu, Allah berfirman :فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا

“Maka, ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub, dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi”. (QS. Maryam: 49)

Ibnu Katsir rohimahulloh saat menafsirkan ayat di atas berkata :فلما اعتزل الخليل أباه وقومه في الله ، أبدله الله من هو خير منهم ، ووهب له إسحاق ويعقوب ، يعني ابنه وابن إسحاق ،

Allah Ta’ala menceritakan bahwa setelah Nabi Ibrahim ‘alayhis sholaatu wa sallam menjauh dari ayahnya dan kaumnya demi karena Allah, maka Allah menggantikan baginya orang-orang yang lebih baik daripada mereka dan Allah menganugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub -‘alayhimas sholaatu wa sallam-, yakni seorang putra dan cucu. – Syarah Tafsir Ibnu Katsir, karya ar Roojihi (IV:72)

0 Komentar