Serapan MBG Tinggi, Masyarakat dan Pedagang Keluhkan Harga Pangan Naik

Pedagang ayam potong di pasar tradisional Tagog Padalarang, Bandung Barat keluhkan sepi pembeli. Dok Jabar Eks
Pedagang ayam potong di pasar tradisional Tagog Padalarang, Bandung Barat keluhkan sepi pembeli. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tingginya permintaan komoditas pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) diduga menjadi salah satu pemicu naiknya harga ayam dan telur di Bandung Barat.

Kenaikan tersebut kini dirasakan langsung oleh pedagang dan masyarakat yang mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan harian.

Di Pasar Tradisional Padalarang, sejumlah pedagang mengeluhkan harga yang terus melonjak sejak beberapa bulan terakhir. Fajar Agustian (30), pedagang ayam potong, menyebut harga ayam ras sudah naik sejak April 2025 menyusul meningkatnya permintaan dari pemasok.

Baca Juga:Raih Banyak Alumni Lolos Seleksi APH dan Sekolah Kedinasan, Bimbel Terpadu Jadi Incaran PesertaBukti Konsistensi Layanan Gas Bumi, FSRU Lampung Terima Kargo LNG ke-20

Menurut Fajar, harga daging ayam kini mencapai Rp41.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp38.000 sebelum program MBG menyerap pasokan lebih besar.

“Dari April sampai sekarang naik turun. Naiknya sekitar Rp3.000,” kata Fajar di Padalarang, Jumat (21/11/2025).

Lonjakan harga itu berdampak pada penurunan penjualan. Biasanya Fajar mampu menjual hingga 50 ekor ayam per hari, namun kini hanya 30-40 ekor.

Ia mengatakan mayoritas pembeli mulai menekan jumlah pembelian karena dianggap terlalu mahal.

“Pembeli terpaksa mengurangi pembelian ayam. Ya itu karena harganya mahal dan terus naik,” ujarnya.

Kondisi serupa terjadi pada komoditas telur. Ujang Koswara (68), pedagang telur di Pasar Tagog Padalarang, mengatakan harga telur ayam ras kini dijual Rp29.000-Rp30.000 per kilogram. Sebelumnya, harga masih berada di kisaran Rp27.000–Rp28.000.

“Dari grosir sudah mahal, setelah ada program MBG. Harga telur jadi naik,” kata Ujang.

Baca Juga:Kekuatan Industri Lokal Menghadapi Dinamika GlobalAkademisi Psikologi Soroti Tantangan Gen Z dalam Seleksi TNI–Polri: Fokus & Disiplin Menurun

Ujang mengaku sulit meraih keuntungan harian karena modal yang dikeluarkan meningkat drastis. Jika biasanya dagangannya habis dalam sehari, kini stok telur baru terjual habis dalam dua hari.

“Sekarang berat. Modal besar, untung kecil, lakunya lama,” keluhnya.

Ia berharap pemerintah dapat meninjau ulang kebijakan yang berdampak pada pedagang kecil.

“Jangan sampai program MBG menyulitkan pedagang kecil. Kami modalnya sedikit, jualan pun susah,” ujarnya.

Di tingkat konsumen, kenaikan harga ayam dan telur juga menambah beban rumah tangga. Leli (28), warga Desa Tagog Apu Padalarang, mengatakan harga daging ayam kini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum program MBG berjalan.

0 Komentar