JABAR EKSPRES – Ketua Fraksi PKS DPRD Jabar Tetep Abdulatip mendorong agar Makan Bergizi Gratis (MBG) dikelola unit terkecil. Hal itu untuk menggerakkan pasar lokal. Hal ini, menurutnya, akan membantu menggerakkan pasar lokal dan lebih tepat sasaran.
Tetep menguraikan, unit terkecil yang dimaksud seperti sekolah, madrasah, atau pesantren penerima manfaat dari MBG. Artinya dapur MBG dikelola sekolah dan itu menyediakan untuk seluruh siswa di sekolah tersebut.
Menurut Tetep, metode ini akan lebih tepat sasaran. Karena menurut penilaiannya saat ini, program MBG belum dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat di tingkat bawah.
Baca Juga:Tanque Mantap Jaga Tren Positif Persib, Hodak Bongkar Kondisi Terbaru Adam Alis dan BarbaHarga Tak Sesuai Performa, Benjamin Sesko Diragukan!
Ia menilai, sistem distribusi yang terpusat dan dikelola oleh pemodal besar justru menjauhkan manfaat dari pasar tradisional lokal.
“Kalau terlalu besar, belanjanya bukan ke pasar kecamatan. Dampaknya pasar lokal tidak terdampak,” ujarnya.
Menurut Tetep, SPPG yang terlalu luas membuat denyut ekonomi di pasar tradisional tingkat kecamatan tidak bergerak. Padahal, semangat awal MBG adalah untuk menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar penerima manfaat.
Bagi Tetep, solusi terbaik adalah menyerahkan pengelolaan langsung kepada unit terkecil penerima manfaat, seperti sekolah dasar, madrasah, atau pesantren. Dengan begitu, kebutuhan belanja akan diserap dari pasar lokal.
“Mereka pasti belanja ke pasar terdekat. Pasar tradisional,” jelasnya.
Tetep melanjutkan, pendekatan desentralistik ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha kecil di daerah untuk ikut terlibat. Dengan dukungan akses pembiayaan seperti kredit konstruksi dari Bank BJB, pengusaha lokal bisa tumbuh bersama program.
Kata dia, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari seberapa besar program ini mampu menggerakkan ekonomi rakyat di akar rumput. Program ini punya niat baik yakni mendukung kesehatan masyarakat dengan asupan gizi yang cukup.
Baca Juga:Guru DKV SMKN 3 Cimahi Ciptakan 'Simanis', Teknologi yang Menyatukan Data dan Mengubah Budaya SekolahBojan Hodak Kembali ke Bandung, Jawab Rumor Latih Timnas Indonesia!
Karena itu, dalam pelaksanaannya harus berjalan dengan baik. Dengan pengelolaan ke tingkat yang lebih kecil maka juga akan meminimalisir kelalaian pengelolaan. Karena dapur tidak terlalu terbebani porsi besar yang harus disediakan.(son)
