JABAR EKSPRES — Puluhan gerakan, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil di Bandung bersatu dalam Global Climate Strike Bandung 2025 dengan mengusung tema besar “Urundaya Iklim”, sebuah semangat gotong royong untuk mempertahankan ruang hidup dan memperjuangkan keadilan iklim.
Aksi ini menjadi bagian dari gelombang mobilisasi global merespons penyelenggaraan COP30 di Belém, Brazil.
Aksi yang dimulai sejak 15 November ini menegaskan bahwa masyarakat akar rumput di Bandung tidak tinggal diam melihat kebijakan pembangunan yang merusak lingkungan, memperdalam ketimpangan, serta mengancam masa depan generasi muda.
Baca Juga:182 Ribu Warga Kabupaten Bandung Bermain Judi Online, Diskominfo Siapkan Langkah PenangananBandung Darurat Sampah, Relawan Gen Z Konsisten Bersihkan Sungai Ciroyom
Gerakan Urundaya Iklim dibagi ke dalam dua rangkaian utama, Ruang Urundaya Iklim dan Pawai Iklim.
Ruang Urundaya Iklim, yang berlokasi di Dago Elos, menjadi tempat konsolidasi berbagai kelompok untuk memperdalam analisis krisis iklim, merumuskan taktik gerakan, hingga membuat alat peraga kampanye.
Lokasi ini dipilih karena menjadi simbol perlawanan warga terhadap konflik ruang dan ancaman penggusuran.
Pada hari puncak, massa aksi menggelar Pawai Iklim melalui longmarch dari Taman Cikapayang menuju Cikapundung Riverspot sejauh lebih dari 3 kilometer.
Pawai ini diwarnai berbagai seni budaya, termasuk kesenian reak dari Bandung Timur.
Farrel Raihan Gunawan dari Extinction Rebellion (XR) Bandung yang juga bertindak sebagai caretaker aksi menyebut bahwa warna-warni materi kampanye adalah bentuk keterwakilan keberagaman peserta.
“Ini supaya merepresentasikan bahwa yang terlibat datang dari berbagai usia, latar belakang, dan pekerjaan. Bukan hanya aktivis lingkungan saja, siapa pun warga bumi bisa ikut,” ujar Farrel Minggu (16/11).
Baca Juga:Mengintip Pameran Visual Antara di Museum Kota BandungInilah 15 Jalan yang Sering Disasar Operasi Zebra 2025 di Kota Bandung
“Secara konsep kami ingin tampilan pawai tetap cerah dan sumringah, supaya terasa bahwa pawai iklim ini juga bisa dilakukan dengan gembira.” tambahnya
Dalam aksinya, massa menyuarakan tuntutan besar yang mencakup isu lokal Bandung hingga persoalan global. Beberapa tuntutan utama meliputi:
1. Penyelesaian Konflik Agraria di Bandung Raya
Massa menyoroti konflik yang masih berlangsung di berbagai titik seperti Punclut, Dago Elos, Sukahaji, hingga Kebun Binatang Bandung.
Gerakan ini menuntut dihentikannya seluruh praktik perampasan lahan oleh korporasi dan mendorong Reforma Agraria Sejati sebagai syarat tercapainya keadilan iklim.
