Aktivitas pertanian pun completely terhenti. Ironisnya, puluhan orang justru terlihat memanfaatkan situasi ini untuk memancing di tengah hamparan banjir.
Pemandangan seperti ini bukanlah hal baru bagi warga. Setiap musim hujan tiba, kawasan persawahan ini selalu menjadi langganan banjir.
Ketinggian air di lahan pertanian dilaporkan mencapai satu hingga satu setengah meter, bahkan di bagian tengah hamparan sawah bisa lebih dari dua meter.
Baca Juga:Danau Retensi Menghilang, Lembang Kini Rawan Banjir Setiap Hujan DerasBupati Bandung Sentil Perusahaan di Dayeuhkolot, Harus Turut Andil Atasi Banjir
“Ya memang setiap tahun petani yang menggarap sawah di Desa Ciganjeng mengalami kerugian,” keluh Bambang (41), seorang petani setempat.
Ia mengungkapkan kelelahan dan kepasrahannya menghadapi siklus tahunan yang telah berlangsung puluhan tahun.
“Jadi, petani sebenarnya sudah merasa bosan karena sudah sekitar 35 tahun begini terus. Petani ada yang gagal tanam dan gagal panen,” katanya.
Kerugian material yang diderita para petani tidaklah kecil. Jika dihitung secara keseluruhan, kerugian dari sekitar 300 hektare lahan sawah yang terdampak banjir dalam setahun bisa mencapai angka fantastis, sekitar Rp 17 miliar.
Bambang menegaskan bahwa kesabaran petani sudah di ujung tanduk, terutama dalam kondisi perekonomian yang semakin sulit.
“Kalau disebut sabar, itu sudah kehabisan sabar sekarang ini. Apalagi kondisi ekonomi sekarang sedang begini,” ucapnya. (CEP)
