Rentannya Generasi Alfa, Wakil Wali Kota Dorong Implementasi Mental Health School untuk Tekan Bullying

Rentannya Generasi Alfa, Wakil Wali Kota Dorong Implementasi Mental Health School untuk Tekan Bullying
Wakil Wali Kota Cimahi Adithia Yudhistira saat Bersama Siswa SIWI SMPN 9 Kota Cimahi (Mong)
0 Komentar

JABAR EKPRES – Menyikapi kasus perundungan di sekolah kembali menyita perhatian Pemerintah Kota Cimahi. Fenomena yang kian kompleks ini menegaskan urgensi pembentukan ekosistem pendidikan yang lebih aman, adaptif, dan peka terhadap kesehatan mental peserta didik.

Di tengah situasi tersebut, Wakil Wali Kota Cimahi, Adithia Yudhistira, menekankan pentingnya intervensi sistematis melalui program Cimahi Mental Health School yang ditargetkan dapat berjalan pada 2026.

Perundungan memang bukan isu baru. Namun, dalam konteks saat ini, dampaknya semakin berat, terutama bagi peserta didik yang masuk dalam generasi Alfa, kelompok yang secara ilmiah dinilai lebih sensitif dan lebih rentan tekanan psikologis.

Baca Juga:Disdik Siagakan Psikolog di Sekolah, Kota Bandung Tegaskan Tak Toleransi Perilaku BullyingMenuju Zero Bullying, Kota Bandung Masih Tertahan di Predikat 'Madya' Kota Ramah Anak

Adithia menilai bahwa urgensi bukan hanya pada memadamkan kasus demi kasus, tetapi memahami akar persoalan dan mengantisipasi luka mental yang bisa terbawa hingga dewasa.

“Itulah. Mudah-mudahan 2026, Cimahi Mental HEALTH School itu bisa jalan ya. Yang paling penting gini, kalau dari zaman dulu, moyok (mengejek) itu kan suatu hal yang biasa sebetulnya di rekan-rekan sekolah gitu ya. Mengejek dan lain-lain itu merupakan suatu hal yang sebetulnya budaya kurang baik, tapi sering terjadi,” ujar Adithia saat ditemui di SMPN 9 Kota Cimahi, Jum’at (14/11/25).

Ia menegaskan bahwa praktik mengejek yang dahulu dianggap lumrah kini berpotensi menimbulkan dampak psikologis lebih serius.

Dalam situasi pendidikan modern, lanjutnya, pola interaksi antar siswa tak lagi sesederhana masa sebelumnya. Tantangan digital, paparan media sosial, dan dinamika relasi yang cepat berubah menambah tekanan mental pada anak-anak.

“Nah, bullying dalam hal ini, di mana pun juga ada pasti. Di setiap tempat, di setiap sekolah itu pasti terjadi bullying. Yang paling tepatnya itu adalah bagaimana mengantisipasi dampak dari bullying-nya itu sendiri,” lanjutnya.

Adithia menekankan bahwa langkah paling penting bukan hanya mengidentifikasi perilaku perundungan, tetapi memahami konsekuensinya.

Katanya, dampak psikologis yang melekat dapat memengaruhi kepercayaan diri, kesehatan mental jangka panjang, hingga potensi anak untuk mengembangkan kemampuan sosial.

Baca Juga:DP3AKB Jabar Beri Perhatian Kelas Lokus Kasus Bullying GarutLegislator PPP Soroti Dugaan Bullying Pelajar Garut hingga Tewas: Jadi Perhatian Bersama!

“Nah, kalau kita bicara dampak bullying, ya kita harus berbicara tentang kesehatan mental. Kita harus lebih care dan lebih aware terhadap mental yang hari ini mungkin anak-anak SMP itu sudah masuk ke generasi Alfa, gitu yang tentu secara ilmiah menyatakan makin rapuh mentalnya dan makin mudah tersinggung dan lain sebagainya,” bebernya.

0 Komentar