Musik Jadi Nafas Baru Advokasi Lingkungan, WALHI Ajak Generasi Muda Suarakan Krisis Ekologis Lewat Karya

Musik Jadi Nafas Baru Advokasi Lingkungan, WALHI Ajak Generasi Muda Suarakan Krisis Ekologis Lewat Karya
Ilustrasi musik jadi nafas baru advokasi lingkungan. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah menajamnya krisis lingkungan yang melanda Indonesia mulai dari deforestasi, polusi udara, hingga krisis air.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat menilai seni dan musik harus menjadi medium strategis untuk menyuarakan kepedulian ekologis.

Dalam era digital yang sarat pesan visual dan emosional, seni dan musik dinilai mampu menembus batas formal advokasi yang selama ini cenderung kaku dan birokratis.

Baca Juga:Walhi Jawa Barat Sebut Program Kampung Iklim Tidak TransparanProgram Kampung Lingkungan Dinilai Menghamburkan Anggaran, Ini Kata Walhi Jabar!

Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat, Wahyudin Iwang, menegaskan seni dan musik memiliki peran historis dalam menyampaikan pesan sosial, termasuk isu lingkungan.

Namun, ia mengakui bahwa ruang aspirasi publik kini semakin terbatas akibat kebijakan yang membungkam kebebasan berekspresi.

“Di tengah era digitalisasi, peran seni dan musik harusnya menjadi ruang yang lebih strategis. Sejak dulu, seni dan musik adalah medium menyampaikan pendapat, meski fasenya kini berbeda. Lahirnya UU ITE, misalnya, telah berhasil membatasi publik untuk menyampaikan informasi dan pendapat secara terbuka, baik di muka umum maupun secara visual,” ujar Iwang sapaan akrabnya saat dihubungi Jabar Ekspres via WhatsApp, Selasa (11/11/25).

Menurutnya, kondisi tersebut semakin mengikat terutama bagi kelompok muda yang seharusnya menjadi agen perubahan. Namun, ia melihat ruang visual tetap memiliki daya dorong besar dalam menggerakkan advokasi lingkungan.

“Ruang visual dapat menjadi medium advokasi lingkungan, baik lewat podcast, foto esai, meme, poster, maupun narasi kampanye. Semua itu bisa menjadi jembatan bagi generasi muda untuk bersuara,” tambahnya.

Iwang menegaskan, WALHI tidak bisa bekerja sendirian dalam memperjuangkan keadilan ekologis. Ia menyebut bahwa kolaborasi antara musisi, seniman, dan budayawan menjadi langkah penting dalam membangun gerakan budaya yang berkelanjutan.

“Kami terus berupaya melakukan konsolidasi dengan berbagai jaringan. Beberapa bulan terakhir, kami berharap para musisi, seniman, dan budayawan dapat bersatu memikirkan situasi kerusakan lingkungan yang kini sudah sangat dekat dengan kehidupan kita,” ujarnya.

Baca Juga:Demi Kebijakan yang Berpihak pada Rakyat, Walhi Jabar Tegaskan Kritiknya Bukan karena Tidak DilibatkanWalhi Jabar Desak Pemkot Hentikan Pembakaran Sampah di Bandung Raya

Ia menambahkan, WALHI melihat potensi besar dari karya seni untuk memperluas kesadaran publik.

Namun, kata Iwang, upaya tersebut sering kali menghadapi tantangan serius berupa pembatasan publikasi dan sensor terhadap karya yang bersifat kritis.

0 Komentar